< Previous34 | Kelas VIII Terjemahan:Apabila sama besarnya antara sattwam dan rajah, itulah menyebabkan ingin mengamalkan dharma olehnya, berhasillah dharma itu olehnya berdua, itulah yang menyebabkan pulang ke surga, sebab sattwam ingin berbuat baik, sedang rajah itu yang melaksanakan.Pustaka suci Wrhaspati Tattwa sloka 22 menjelaskan sebagai berikut:yan pada gongnya ketelu, ikang sattwa, rajah, tamas ya ta matangnyan pangjadma manusa, apan pada wineh kahyunya.Terjemahan:Apabila sama besarnya ketiga guna; sattwam, rajah, dan tamah itu, itulah yang menyebabkan penjelmaan manusia karena sama memberikan kehendaknya atau keinginannya.Pustaka suci Wrhaspati Tattwa sloka 23 menjelaskan sebagai berikut:yapwan citta si rajah magong, krodha kewala, sakti pwa ring gawe hala, ya ta hetuning atma tibeng naraka.Terjemahan:Apabila citta si rajah besar, hanya marah kuat pada perbuatan jahat, itulah yang menyebabkan ātma jatuh ke neraka.Pustaka suci Wrhaspati Tattwa sloka 24 menjelaskan sebagai berikut:yapwan tamah magong ring citta, ya hetuning atma matemahan triyak, ya ta dadi ikang dharma sadhana denya, an pangdadi ta ya janggama.Terjemahan:Berdasarkan sloka tersebut di atas, jelaslah yang menyebabkan adanya perbedaan kelahiran itu adalah tri guna, karma lahir dari tri guna, dan dari karma muncul suka dan duka.Sloka-sloka di atas menjelaskana bahwa kelahiran yang akan datang sangat dipengaruhi oleh guna yang dominan. Jika seseorang dalam hidupnya lebih dominan sifat sattwam, dapat mengakibatkan orang tersebut mencapai surga sehingga kelahiran yang akan datang menjadi orang yang dermawan, bijaksana, dan budiman. Pendidikan Agama Hindu | 35Kerjakan soal-soal berikut.1. Jelaskan pengaruh sifat tamas dalam diri!2. Jelaskan pengaruh sifat rajas dalam diri!Diskusikan dengan orang tuamu, mengapa jika ketiga sifat dalam diri seimbang menyebabkan manusia lahir kembali menjadi manusia. Tuliskan hasil diskusinya di bawah ini.________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________NilaiParafOrang TuaGuru Latihan Cari Informasi 36 | Kelas VIII D. Upaya-Upaya Menyeimbangkan Tri GunaSifat Tri Guna tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan dan diusahakan untuk meningkatkan diri memupuk sifat sattvam, dan mengarahkan sifat rajas ke arah yang positif. Upaya-upaya itu dapat dilakukan dengan melaksanakan ajaran agama Hindu secara baik dan benar. Untuk mengarahkan sifat rajas ke arah positif, kita dapat melakukan hal-hal sebagai berikut dalam kehidupan sehari-hari.a. Tapa (pengendalian diri), b. Brata (berpantang), c. Yoga (menghubungkan Ātmān dengan brahman) dan d. Samadhi (meditasi)e. Dasa Yama Brata (sepuluh cara pengendalian diri).f. Panca Niyama Brata (lima cara pengendalian diri lanjutan).g. Dasa Niyama Brata (sepuluh cara pengendalian diri lanjutan).h. Menerapkan Tat Twam Asi 1. Upaya-Upaya untuk Menyeimbangkan Sifat TamasUpaya-upaya untuk menyeimbangkan sifat tamas ialah dengan memahami dan menghayati sastra suci. Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 2, dijelaskan sebagai berikut:mānusah sarvabhūtesu varttate vai subhāśubheaśubhesu samavistam śubhesvevāvakārayetTerjemahan:Di antara semua makhluk, hanya manusia sajalah yang dapat melaksanakan dan membedakan perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk, melebur perbuatan buruk menjadi baik itulah tujuan hidup manusia. Dengan demikian usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan sifat rajas dan tamas yang dominan dalam diri antara lain: a. mempelajari sastra-sastra suci (veda),b. mengembangkan intuisi dan kecerdasan,c. dharmawacana,d. dharmatula, Membaca Pendidikan Agama Hindu | 37e. tirtayatra,f. dharmagita, g. aktif dalam kegiatan keagamaan lainnya,h. bekerja sungguh-sungguh,i. ksama (mudah memberi maaf), j. dama (dapat mengendalikan nafsu),k. asteya (tidak mencuri), l. sauca (bersih atau suci),m. indryanigraha (mengendalikan diri), n. vidya (sanggup belajar), o. satya (kebenaran kesetiaan dan kejujuran),p. akrodha (tidak marah),q. melakukan ajaran catur marga,r. mengikuti ajaran asta brata (delapan cara pengendalian dan mengikuti sifat-sifat para deva). Dalam pustaka suci Śarasamuccaya sloka 27, dijelaskan sebagai berikut:yuvaiva dharmmamanvicched yuvā vittam yuvā srutam tiryyagbhavati vai dharbha utpatan na ca viddyatiTerjemahan:Karenanya perilaku seseorang; hendaknyalah masa muda digunakan dengan sebaik-baiknya, selagi badan sedang kuatnya, hendaknya digunakan sepenuhnya untuk mengikuti dan mempelajari dharma, artha, dan ilmu pengetahuan sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan seorang anak muda, contohnya adalah seperti rumput ilalang yang telah tua, menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi.Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai manusia dalam upayanya mengendalikan diri dari sifat tamas dan rajas yang dominan dalam diri. Jika manusia telah mampu mengendalikan sifat rajas dan tamas, serta lebih menonjolkan sifat sattwam, manusia dapat menjalankan kewajibannya lahir ke dunia ini dengan baik.38 | Kelas VIII Jawablah soal-soal di bawah ini dengan benar!1. Tuliskan pengertian Tri Guna dalam diri manusia!2. Tuliskan bagian-bagian Tri Guna dalam diri!3. Tuliskan pengertian sifat sattwam dalam agama Hindu!4. Tuliskan contoh perilaku yang dipengaruhi sifat tamas dalam kehidupan!5. Tuliskan contoh perilaku yang dipengaruhi sifat rajas dalam kehidupan!6. Tuliskan upaya untuk mengendalikan sifat tamas yang dominan!7. Tuliskan upaya untuk mengendalikan sifat rajas yang dominan!8. Tuliskan pendapatmu mengapa jika sifat sattwam yang dominan menyebabkan manusia mencapai moksa!9. Tuliskan pendapatmu mengapa jika sifat sattwam dan rajas yang dominan menyebabkan manusia mencapai surga!10. Tuliskan pendapatmu mengapa jika sifat rajas yang dominan menyebabkan manusia mencapai neraka!RingkasanSetelah membaca, mengamati, mendengar dan menelaah ajaran Tri Guna yang telah dipelajari, tuliskan ringkasan terkait materi Tri Guna dengan langkah-langkah sebagai berikut:1. Pendahuluan___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________2. Bagian-bagian Tri Guna dan ciri-cirinya___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Latihan Pendidikan Agama Hindu | 393. Pengaruh Tri Guna dalam diri___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________4. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menyeimbangkan Tri Guna___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________NilaiParafOrang TuaGuru40 | Kelas VIII Veda VakyaAham sarvasya pabhawaMattah sarwam pravantateItu matraa bhajante maamBuddhaa bhavasamu vitahTerjemahannya:Aku ini asal mula segala yang adaDari Aku segala sesuatu tumbuh pertamaMengatahui hal ini, orang bijaksana memuja-Ku.Dengan cara menyanyikan nama-Ku dengan sepenuh hati.Bhagavad-gītā X.8Ātmān sebagai Sumber HidupBab3 Pendidikan Agama Hindu | 41A. Sumber Hidup Setiap makhluk hidup memiliki sumber hidup yang diperoleh dari Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Widhi meresap dan ada di mana-mana dan tidak berubah-ubah yang disebut Wyapi Wiyapaka Nirwikara. Karena Sang Hyang Widhi ada di mana-mana, Beliau mampu menghidupi seluruh makhluk hidup yang ada di alam semesta.Dalam agama Hindu, Ātmān adalah sumber hidup dari segala makhluk hidup. Ātmān juga diartikan sebagai percikan-percikan terkecil dari parama ātmān. Ātmān juga diartikan sebagai sinar suci dari Brahman (Sang Hyang Widhi). Setiap yang bernapas mempunyai ātmān sehingga mereka dapat hidup. Ātmān adalah hidupnya semua makhluk (manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya). Pustaka suci Bhagavad-gītā VIII.3 menyebutkan sebagai berikut: aksaram brahma paramam svabhāvo`dhyātmam ucyate bhūta-bhāvodbhava-karo visargah karma-samjñitahTerjemahan:Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan dan bersifat rohani disebut Brahman, dan sifatnya yang kekal disebut adhyātman, atau sang diri. Perbuatan berhubungan dengan perkembangan badan-badan jasmani para makhluk hidup disebut karma atau kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala.Selain pustaka suci Bhagavad-gītā yang menjelaskan ātmān, penjelasan terkait ātmān juga dijelaskan dalam pustaka suci Weda Parikrama. Dalam pustaka suci Weda Parikrama, disebutkan bahwa:eko devah sarva bhutesu gudhah sarva vyapisarva bhutaratma karma dhayaksah sarva bhutadiwasah, saksi ceto kevalonirgnasca Membaca Sumber: http://www.elephantjournal.comGambar: 3.1 Ātmān42 | Kelas VIII Terjemahan: Satu zat yang bersembunyi dalam setiap makhluk yang mengisi semuanya yang merupakan jiwa batin semua makhluk raja dari semua perbuatan yang tinggal dalam semua makhluk saksi yang hanya terdapat dalam pikiran saya.Kutipan sloka di atas menjelaksan bahwa setiap makhluk hidup diresapi oleh zat yang disebut ātmān. Karena dalam diri makhluk hidup terdapat ātmān, semua kegiatan yang kita lakukan, ātmān menjadi saksinya. Ātmān yang terdapat pada setiap makhluk hidup bersumber dari Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Widhi adalah pencipta, pemelihara dan pengembali seluruh isi alam semesta. Ātmān yang telah masuk ke dalam tubuh manusia disebut jiwātmān. Jivātmān adalah ātmān yang telah masuk ke dalam tubuh dan memberikan kekuatan hidup. Apabila seseorang meninggal, maka Ātmān-nya akan keluar dari tubuhnya. Banyak orang mengatakan bahwa ātmān sama dengan Roh, namun sesungguhnya Roh berbeda dengan ātmān. Roh adalah badan astral atau badan halus yang membungkus jiwatman yang telah meninggal. Roh inilah yang akan dilahirkan kembali dengan segala karma wasana-nya.Ātmān yang telah memasuki badan manusia akan terpengaruh sifat-sifat keduniawian. Ātmān yang terpengaruh sifat keduniawian menjadi bodoh atau tidak mengetahui jati dirinya. Karena ātmān telah terbelenggu oleh badan manusia, ātmān menjadi avidya. Ātmān sebagai sumber hidup selalu menjadi bahan perbincangan bagi para tokoh spiritual. Para tokoh tersebut menginginkan pengetahuan yang mendalam dan benar terkait ātmān. Terdapat beberapa pandangan terkait ātmān. Advaita Vedanta memahami ātmān sebagai Brahman seutuhnya sehingga ātmān mempunyai sifat yang sama dengan Brahman. Sifat-sifat itu adalah sama-sama berada di mana–mana, tanpa terikat ruang dan waktu, maha mengetahui, tidak berbuat dan tidak menikmati. Ātmān yang meresapi seluruh makhluk hidup pada dasarnya memiliki sifat yang sama dengan Brahman. Namun, ātmān dalam diri manusia terkesan tidak memiliki sifat yang sama dengan Brahman karena terpengaruh oleh avidya atau kebodohan. Pendidikan Agama Hindu | 43Visistadvaita Vedanta memahami ātmān sebagai bagian dari Brahman. Ibarat sebiji buah delima, buah delima merupakan Brahman, sedangkan biji-bijinya merupakan ātmān. Ātmān yang menghidupi manusia disebut jivatman. Jivatman yang terdapat dalam diri benar–benar terlihat bersifat pribadi dan berbeda dengan Brahman. Sesungguhnya jivatman muncul dari Brahman dan tidak pernah di luar Brahman, tetapi sekalipun demikian ia menikmati keberadaan pribadi dan akan tetap merupakan sesuatu kepribadian selamanya.Dvaita Vedanta memahami bahwa ātmān berjumlah sangatlah banyak. Ātmān yang satu berbeda dengan ātmān yang lain. Setiap ātmān memiliki pengalaman, cacat dan sengsaranya sendiri. Ātmān itu kekal dan penuh kebahagiaan. Karena adanya hubungan dengan benda, ātmān itu mengalami penderitaan dan kelahiran yang berulang–ulang. Selama ātmān terbelenggu sifat keduniawian, ātmān akan tersesat dalam samsara, mengembara dari satu kelahiran ke kelahiran yang lainnya. Demikian keyakinan adanya ātmān yang terbelenggu oleh badan, indria, ahamkara, manas, buddhi dan citta sehingga tidak dapat memancarkan sinarnya yang asli dan terang. Sifat-sifat ātmān sesungguhnya identik dengan Brahman. Itulah yang harus dicari dan yang seharusnya dimengerti. Dia yang menemukannya memperoleh seluruh alam semesta. Lebih jauh, seseorang yang telah maju kehidupan spiritualnya akan mudah merealisasikan ātmān dalam dirinya. Dari mereka cinta kasih yang sejati (prema) bersemi, tumbuh dan berkembang memengaruhi lingkungannya. Baginya, semua makhluk adalah satu keluarga, saling bersaudara (vasudhaiva kutumbakam)1. Apa yang kamu pahami terkait ātmān dalam diri?2. Apa yang kamu pahami dari sloka Weda Parikrama? Latihan Next >