< Previous94 Kelas VIII SMP B. Raja Pasenadi KosalaAyo MengamatiAmati Gambar 4.6. Bacalah dengan cermat materi pada bab ini. Bagaimana peran Raja Pasenadi terhadap agama Buddha? Keteladanan apa yang dapat kamu ambil setelah mempelajari kisah Raja Pasenadi Kosala? Tahukah kamu, Raja Pasenadi Kosala?Sumber : iyadav.com Gambar : 4.6 Raja Pasenadi menemui BuddhaPasenadi adalah raja Negeri Kosala dengan ibu kota Savathi. Ia adalah ipar dari Raja Bimbisara. Raja Pasenadi Kosala menjadi pengikut Buddha pada masa sangat awal dari kepemimpinan Buddha, dan tetap setia menjadi pendukung Buddha hingga akhir hayatnya. Permaisurinya, Mallika, adalah seorang ratu yang bijaksana dan taat pada ajaran Buddha. Pada waktu pertama kali Raja bertemu dengan Buddha, Pasenadi bertanya, “Bagaimana bisa Guru Gotama menyatakan bahwa telah mencapai Penerangan Sempurna, sedangkan Guru Gotama masih muda, baik dalam usia maupun dalam kebhikkhuan?” Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti 95 Buddha menjawab, “Raja yang agung, terdapat empat hal yang tidak boleh dianggap remeh dan dipandang rendah karena mereka masih muda.”Setelah mendengar penjelasan Buddha, Raja Pasenadi Kosala mengerti bahwa Buddha memang benar-benar seorang guru yang bijaksana, dan ia memutuskan untuk menjadi pengikut-Nya.Raja Pasenadi rajin mengunjungi Buddha untuk meminta nasihat. Suatu hari ketika berbicara kepada Buddha, ia menerima kabar bahwa istrinya, Ratu Mallika, telah melahirkan seorang putri. Raja tidak gembira mendengar kabar itu karena menginginkan seorang putra. Buddha berkata: “Sebagian wanita adalah lebih baik daripada pria. Ada wanita yang bijaksana, baik, yang menghormati ibu mertuanya, seperti dewa, dan yang tulus dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Mereka suatu hari mungkin melahirkan anak laki-laki yang berani yang dapat memerintah kerajaan.”Buddha mengatakan bahwa orang terkasih yang kita cintai dapat mendatangkan dukacita dan ratapan, penderitaan, kesedihan, dan kepatahan hati.” “Mallika,” kata Raja, “sungguh mengagumkan, sungguh menakjubkan begitu jauh Buddha dapat melihat melalui pengertian-Nya”.Ketika Raja Kosala kalah perang dengan keponakannya dan harus mundur ke ibu kota Savatthi, Buddha berkomentar kepada para murid-Nya bahwa bukan yang menang maupun yang kalah yang akan merasakan kedamaian:“Kemenangan membiakkan kebencian Yang kalah hidup dalam kesakitan. Kebahagiaan hidup yang damai diperoleh dari melepaskan kemenangan dan kekalahan.”Dalam peperangan berikutnya, kedua raja bertempur dan Raja Kosala tidak saja menang, tetapi ia juga berhasil menangkap Raja Ajatasattu hidup-hidup bersama semua pasukan gajah, kereta, kuda, dan prajuritnya. Raja Kosala berpikir akan melepaskan keponakannya, tetapi tidak untuk Tahukah Kamu?Ada empat hal yang tidak bisa dipandang remeh, yaitu: (1) seorang prajurit kerajaan; (2) seekor ular; (3) api; dan (4) seorang bhikkhu suci. Seorang prajurit muda yang dibuat marah sekali akan dapat dengan kejam melukai orang lain. Gigitan seekor ular meskipun itu ular kecil, dapat mematikan. Api yang kecil dapat menjadi api yang amat besar yang dapat menghanguskan gedung-gedung dan hutan. Meskipun seorang bhikkhu muda, ia telah mencapai kesucian”. 96 Kelas VIII SMP kuda-kuda, gajah, dan yang lain-lainnya. Ia menginginkan kepuasan dari menahan harta benda ini sebagai hadiah bagi kemenangannya.Mendengar hal ini, Buddha mengatakan kepada para murid-Nya bahwa akan lebih bijaksana bagi Raja Kosala untuk tidak menahan benda apa pun bagi dirinya. Kebenaran dari pernyataan ini masih tetap diterapkan di dunia peperangan modern:“Seseorang mungkin bisa merampas semuanya. Bilamana orang lain merampas balik, yang terampas akan merampas balik. Roda Perbuatan terus berputar dan membuat seseorang yang dirampas menjadi merampas.”Raja Pasenadi Kosala bertarung dalam banyak peperangan dengan keponakannya, yaitu Raja Ajatasattu. Ia dikalahkan sekali dan di lain waktu ia menang. Raja Pasenadi Kosala akhirnya wafat dalam usia 80 tahun ketika putranya memberontak terhadapnya.Ayo Merangkum________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Aku tahuPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti 97 Ayo Uji KompetensiLatihan Soal-Soal1. Mengapa Raja Pasenadi Kosala menjadi salah satu pendukung Buddha?2. Tunjukkan bukti-bukti bahwa Raja Pasenadi Kosala adalah raja pendukung agama Buddha!3. Jelaskan kelebihan Raja Pasenadi Kosala!4. Bagaimana komentar Buddha kepada para murid-Nya bahwa bukan yang menang maupun yang kalah dalam peperangan yang akan merasakan kedamaian?5. Mengapa Buddha mengatakan bahwa orang terkasih yang kita cintai, dapat mendatangkan dukacita dan ratapan, penderitaan, kesedihan dan kepatahan hati?TugaskuTemukan, keteladanan apa yang dapat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari dari kisah Raja Pasenadi Kosala? C. Raja BimbisaraAyo Mengamati Sumber : dhammavijja.web.idGambar : 4.7 Raja Bimbisara beserta pengiringnya menemui BuddhaAmati gambar 4.7. Tahukah kalian kisah Raja Bimbisara? Bagaimana perannya dalam mendukung Buddha? Nilai-nilai luhur apa yang dapat kalian teladan darinya? Mengapa ia harus wafat di tangan putra kandungnya sendiri?98 Kelas VIII SMP Raja Bimbisara adalah Maharaja Negara Magadha dan Anga dengan ibu kota Rajagaha. Setelah beberapa lama diam di Gayasisa, Buddha melanjutkan perjalanan-Nya melalui Rajagaha dan berhenti di hutan kecil Latthivana. Ayo MengamatiSumber : jhodymaaf.blogspot.comGambar : 4.8 Raja Bimbisara beserta pengiringnya menemui BuddhaAmati gambar 4.8 dan bacalah dengan cermat materi tentang Raja Bimbisara.Buatlah pertanyaan tentang hal-hal yang belum kamu ketahui dari hasil mengamati gambar dan membaca materi.Dalam waktu singkat, tersiar berita bahwa Buddha berada di Rajagaha dan berdiam di hutan kecil Latthivana. Beliau adalah seorang Arahat yang telah mencapai Penerangan Sempurna dan mengajar Dharma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya. Mendengar berita itu, Raja Bimbisara beserta pengiringnya datang mengunjungi Buddha. Raja memberi hormat duduk di satu sisi. Namun, para pengiringnya bersikap tidak hormat.Selesai memberi penjelasan, Kassapa bangun dari tempat duduknya. Ia berlutut tiga kali di bawah kaki Buddha dan mengaku bahwa Buddha adalah gurunya dan ia adalah siswanya. Akhirnya, keragu-raguan mereka lenyap dan menerima khotbah Dharma. Buddha memulai khotbah diawali dengan anupubbikatha dilajutkan dengan Empat Kebenaran Mulia. Pada akhir khotbah, sebelas dari dua belas orang yang hadir memperoleh Mata Dharma dan yang satu memperoleh keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Triratna. Kemudian, Raja Bimbisara menceritakan keinginannya semenjak kecil sebagai berikut:“Dulu, sewaktu masih menjadi Putra Mahkota dan belum naik tahta kerajaan, aku mempunyai lima macam keinginan yaitu: 1. Semoga aku kelak menjadi Raja Magadha.2. Semoga seorang Buddha datang di negeriku sewaktu aku masih memerintah.3. Semoga aku memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Buddha.Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti 99 4. Semoga Buddha memberikan khotbah kepadaku.5. Semoga aku mengerti apa yang harus dimengerti dari ajaran Buddha tersebut.Sekarang semua keinginan yang berjumlah lima itu telah terpenuhi.”Raja Bimbisara memuji khotbah Buddha dan selajutnya ia menyatakan dirinya sebagai upasaka untuk seumur hidup dan mengundang Buddha beserta para pengikutnya untuk datang besok siang dipersembahkan dana makanan di istana. Kemudian, ia bangun dari tempat duduknya, jalan memutar dengan Buddha berada di sebelah kanan, dan pulang ke istana. Ayo MengamatiSuber : http//3.bp.blogspot.comGambar : 4.9 Tukang cukur menyayat telapak kaki Raja Bimbisara dan melumuri garam di penjara bawah tanah.Amati gambar 4.9. Peristiwa apakah yang terjadi? Buatlah pertanyaan tentang hal-hal yang belum kamu ketahui dari hasil mengamati gambar dan membaca materi.Keesokan hari, Raja Bimbisara mengundang Buddha ke istana untuk dipersembahkan dana makanan. Kemudian, Raja memikirkan tempat yang layak yang dapat digunakan oleh Buddha sebagai tempat tinggal. Raja teringat pada Veluvanarama (Hutan Pohon Bambu) yang letaknya tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan desa di sekelilingnya. Dengan batin yang dipenuhi pikiran tersebut, Raja Bimbisara kemudian menuang air ke lantai dari kendi emas dan menerangkan bahwa ia berhasrat menyerahkan Veluvanarama untuk dipakai oleh Buddha beserta pengiringnya sebagai tempat tinggal. Buddha menerima pemberian tersebut dan menggembirakan hati Raja dengan menerangkan keuntungan besar yang dapat diperoleh dari dana tersebut.Raja Bimbisara wafat secara mengenaskan di dalam penjara bawah tanah. Putranya Ajatasattu memenjarakannya di bawah tanah dengan tidak 100 Kelas VIII SMP memberi makan sedikit pun. Lebih keji lagi, Ajatasattu menyuruh tukang cukur untuk menyayat telapak kaki Raja dan melumuri dengan garam dan minyak lalu memanggangnya di atas bara api. Bimbisara mengalami penderitaan yang luar biasa hebatnya. Bimbisara yang sudah amat lemah itu, tidak tahan lagi sehingga meninggal dunia. Bimbisara meninggal karena penderitaannya di luar batas perikemanusiaan lagi. Ia meninggal atas perintah anak kandungnya sendiri.Ayo Merangkum________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Aku tahuAyo Uji KompetensiLatihan Soal-Soal1. Mengapa Raja Bimbisara menjadi pendukung Buddha?2. Tuliskan keinginan Raja Bimbisara sejak kecil sebelum ia menjadi raja!3. Bagaimana peran Raja Bimbisara dalam mendukung Buddha?4. Bagaimana proses pencapaian kesucian yang dicapai oleh Raja Bimbisara?5. Keteladanan apa yang dapat kamu ambil setelah membaca riwayat Raja Bimbisara?Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti 101 Tugas KelompokDiskusikan dan temukan nilai-nilai positif yang dapat kamu teladani dari kisah Raja Bimbisara.D. Raja AjatasattuAyo MengamatiAmati gambar 4.10. Tahukah Kamu, kisah raja Ajatasattu? Bagaimana perannya dalam mendukung Buddha? Nilai-nilai luhur apa yang dapat kalian teladan darin raja Ajatasattu? Mengapa ia terpengaruh bujukan Devadatta? Mengapa ia tega memenjarakan ayahnya hingga meninggal? Nilai-nilai positif mana yang dapat Kalian ambil dari kisah raja Ajatasattu? Sumber : what-buddha.said.netGambar : 4.10 Ajatasattu dibujuk oleh Devadatta untuk membunuh raja BimbisaraAjatasattu adalah putra Raja Bimbisara. Ibunya bernama Ratu Videha. Ketika usianya menjelang dewasa, ia menikah dengan Putri Vajira, anak Pasenadi Kosala. Pada waktu itu, Devadatta merasa iri hati atas kemasyuran Buddha dan beberapa siswa utama-Nya. Devadatta sangat membenci Buddha dan para siswanya. Devadatta memperalat Pangeran Ajatasattu sebagai senjata untuk membalas dendam, dan memengaruhi Pangeran Ajatasattu dengan kesaktiannya. Ia menjelma sebagai anak kecil berkalung beberapa ekor ular berbisa, lalu mendekati Pangeran Ajatasattu. Anak kecil itu menjatuhkan diri di pangkuannya. Tidak beberapa lama, anak kecil itu lenyap dan Devadatta menampakkan diri di depannya. 102 Kelas VIII SMP Peristiwa itu membuat Pangeran Ajatasattu langsung menghormat dan menyatakan diri sebagai penyokongnya. Devadatta dibangunkan sebuah vihara besar dan megah di Gayasisa. Setiap pagi ia diiringi sejumlah besar pengawalnya, ia mempersembahkan dana makanan dan keperluan pokok lainnya kepada Devadatta. Pangeran Ajasattu belum menyadari akibat buruk yang ditimbulkan dari pergaulannya dengan Devadatta.Selanjutnya, Devadatta menghasut Pangeran Ajatasattu untuk merebut kekuasaan dan membunuh ayah kandungnya sendiri, yaitu Raja Bimbisara. Devadatta berusaha membujuk terus hingga Pangeran Ajatasattu tidak berdaya dan akhirnya menyepakatinya. Pangeran Ajatasattu akan membunuh ayahnya dengan sebilah keris, namun tertangkap oleh pengawal istana. Raja Bimbisara tidak menghukum Pangeran Ajatasattu. Dengan penuh cinta kasih, Raja menanyakan tujuan berbuat demikian. Mengetahui bahwa yang dikehendaki adalah tahta kerajaan, pada waktu itu juga, Pangeran Ajatasattu dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Magadha.Selanjutnya, Devadatta kembali menghasut Raja Ajatasattu agar ia menyekap dan mengurung ayahnya dalam penjara. Ayahnya tidak boleh diberi makanan atau minuman. Raja Ajatasattu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjalankannya, dan melarang siapa pun juga untuk menjenguknya kecuali ibunya sendiri, Ratu Videha.Raja Ajatasattu tetap mengetahuinya dan memperingatkan ibunya. Ratu tidak kekurangan akal untuk memeras sari makanan kemudian melumurkannya di sekujur tubuhnya. Demi mempertahankan hidupnya, mantan Raja Bimbisara menjilati tubuh istrinya. Apa pun yang dilakukan Ratu selalu diketahui Raja Ajatasattu. Akhirnya, ibunya dilarang menjenguk sama sekali. Habis sudahlah upaya yang bisa dibaktikan oleh Ratu Videha demi suaminya yang malang. Ia hanya bisa menangis dan berkata: “Oh Raja suamiku, sejak saat ini dan selanjutnya saya mungkin sudah tidak dapat melihatmu lagi. Saya hanya bisa memohon maaf seandaianya selama kita menempuh hidup bersama ini, saya pernah berbuat kesalahan baik melalui tindakan, ucapan maupun pikiran.”Bimbisara tidak mendapatkan makanan lagi. Akan tetapi, karena Bimbisara telah meraih tingkat kesucian Sotapanna, beliau ternyata masih dapat mempertahankan kehidupan dengan melaksanakan meditasi berjalan mondar-mandir (cankamana). Berkat kegiuran batiniah yang dinikmatinya dalam meditasi ini, wajahnya masih tetap tampak segar bugar dan berseri-seri. Raja Ajatasattu makin biadab dan keji. Tanpa rasa belas kasihan, diperintahkannya seorang tukang cukur untuk mengiris urat nadi kedua kaki ayahnya, lalu mengolesinya dengan garam. Bimbisara merasakan penderitaan luar biasa, dan akhirnya meninggal dunia di dalam penjara. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti 103 Raja Ajasattu telah melakukan satu dari lima kejahatan yang paling berat karena telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Perbuatan ini berakibat menghalangi pencapain kesucian bagi dirinya sepanjang kehidupan sekarang. Bahkan, ia pasti akan terlahir kembali di alam neraka avici. Raja Ajatasattu membina pergaulan dengan orang ‘bodoh’, Devadatta sehingga diperalat dengan mudah untuk melakukan berbagai kejahatan bertentangan dengan hati nuraninya yang dalam. Raja Ajatasattu bukan hanya telah terkena bujukan untuk bersekongkol membunuh Buddha. Namun, Buddha tidak bisa dibunuh oleh makhluk apa pun dengan cara apa pun. Walaupun dengan berbagai macam cara Raja Ajatasattu bersekongkol dengan Devadatta untuk membunuh Buddha, upaya ini selalu mengalami kegagalan. Ia pernah mengerahkan sejumlah pemanah istana untuk membidik Buddha. Akan tetapi ketika Buddha mendekati pemanah pertama, ia begitu terpesona oleh keagungan Buddha sehingga seluruh tubuhnya menjadi kaku. Sapaan yang ramah tamah membuat pemanah tersebut membuang busur serta anak panahnya. Beliau kemudian membabarkan Dharma kepada pemanah tersebut dan menyuruhnya pulang dengan melalui jalan tertentu. Para pemanah satu per satu membubarkan diri. Pemanah pertama kemudian menceritakan kegagalan rencana pembunuhan ini kepada Raja Ajatasattu dan Devadatta.Bersamaan dengan meninggalnya Bimbisara, telah terjadi pula suatu peristiwa yang penting, yaitu lahirnya putra sulung Raja Ajatasattu. Mendengar kelahiran putranya, tak terlukiskan betapa bahagianya Raja Ajatasattu. Badannya bergetar dan perasaan cinta kasih kepada putra sulungnya meresap sampai ke tulang sumsumnya. Ia teringat kepada ayahnya yang disekap dan disiksa dalam penjara. Raja Ajatasattu menanyakan keadaan ayahnya sekarang ini, dan segera diperintahkan untuk membebaskannya. Namun, disampaikan berita bahwa ayahnya telah meninggal. Ia merasa tertegun dan bergegas ia lari menjumpai ibunya dan bertanya: “Ibunda tercinta, sewaktu aku lahir, apakah Ayah juga mencintai diriku seperti halnya saya sekarang ini mencintai putraku?” Dengan tersengal-sengal karena sedih, Ratu Videha menuturkan:“Apa yang engkau katakan, Putraku! Sewaktu engkau masih dalam kandungan, aku merasa ingin sekali mengisap darah dari tangan kanan ayahmu. Dengan senang hati dan tulus ayahmu mengabulkannya. Aku bermaksud ingin menggugurkan kandunganku dan setelah engkau lahir, aku ingin membunuhmu. Namun, ayahmu selalu melarangku.”Ketika engkau menderita bisul di tanganmu, ayahmu memeluk dan meletakkan dirimu di pangkuannya. Dengan hati-hati sekali, ia kemudian mengisap bisulmu yang sudah matang dengan mulutnya. Oh, Putraku, Next >