< Previous11Ilmu Pengetahuan Alamditentukan dari hasil diskusi sesama guru. Setelah tema tersebut disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik. Keuntungan model jaring laba-laba bagi peserta didik adalah peserta didik memperoleh pandangan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari pelbagai ilmu yang berbeda-beda.Sumber: Dok. KemdikbudGambar 1.7 Skema Model Pemaduan WebbedKelebihan pendekatan jaring laba-laba untuk mengintegrasikan kurikulum adalah faktor motivasi sebagai hasil bentuk seleksi tema yang menarik perhatian paling besar. Sementara itu, faktor motivasi peserta didik juga dapat berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat peserta didik. Lebih jelas disampaikan oleh Kemdikbud (2013:173), bahwa kelebihan dari model ini adalah dapat memotivasi peserta didik dan membantu peserta didik untuk melihat keterhubungan antargagasan. Kekurangan dari model ini adalah banyak guru sulit memilih tema. Guru cenderung menyediakan tema yang dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi peserta didik. Selain itu, guru seringkali terfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan7. Threaded Model (Model Satu Alur)Model threaded merupakan model pemaduan bentuk keterampilan, misalnya, melakukan prediksi dan estimasi dalam matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita dalam novel, dan sebagainya. Skema model pemaduan ini tersaji pada Gambar 1.8. Bentuk threaded ini berfokus pada meta-curriculum. Lebih lanjut disampaikan oleh Kemdikbud (2013:173), bahwa model ini merupakan model pembelajaran terpadu yang memfokuskan pada penguasaan keterampilan yang meliputi keterampilan sosial, berpikir, serta pelbagai jenis kecerdasan, dan keterampilan belajar. Keterampilan-keterampilan tersebut ‘direntangkan’ melalui pelbagai disiplin ilmu/mata pelajaran. 12Buku Guru Kelas IX SMP/MTsPetunjuk UmumSumber: Dok. KemdikbudGambar 1.8 Skema Model Pemaduan ThreadedKelebihan dari model ini antara lain: konsep berputar di sekitar meta-kurikulum yang menekankan pada perilaku metakognitif, materi untuk tiap mata pelajaran tetap murni, dan peserta didik dapat belajar sebagaimana seharusnya belajar pada masa yang akan datang sesuai dengan laju perkembangan era globalisasi. Model ini memiliki kelemahan pada hubungan isi antarmateri pelajaran yang tidak ditunjukkan secara eksplisit sehingga peserta didik kurang memahami keterkaitan materi antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya.8. Integrated Model (Model Integrasi)Model integrated merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda dengan esensi yang sama dalam sebuah topik tertentu. Skema model pemaduan ini tersaji pada Gambar 1.9. Topik yang yang semula terdapat dalam mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, pada model integrasi ini cukup diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya Pengetahuan Alam. Model integrasi menggunakan pendekatan antarmata pelajaran dan antarbidang studi. Model ini dilakukan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan menetapkan prioritas dari kurikulum serta menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih dalam beberapa mata pelajaran atau bidang studi (Fogarty, 1991). Pada model integrasi ini tema yang berkaitan dan saling tumpang tindih merupakan hal yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan. Keuntungan dari model integrasi adalah peserta didik mudah menghubungkan dan mengaitkan materi dari beberapa mata pelajaran atau bidang studi.13Ilmu Pengetahuan AlamSumber: Dok. KemdikbudGambar 1.9 Skema Model Pemaduan IntegratedKelebihan dari model integrasi adalah peserta didik dapat mengaitkan dan menghubungkan di antara macam-macam bagian dari mata pelajaran. Selain itu, model ini juga mendorong motivasi guru dan peserta didik untuk mengeksplorasi pelbagai topik. Kekurangan model ini sulit dilaksanakan secara penuh dan membutuhkan keterampilan tinggi guru untuk mengemas pelbagai topik dalam satu tema.9. Immersed Model (Model Terbenam)Model immersed memfasilitasi peserta didik mengintegrasikan pelbagai topik dengan cara melihat semua pelajaran melalui perspektif satu bidang kajian yang diminati. Contoh: seorang peserta didik sangat berminat dengan pertanian organik. Oleh karena itu, dia merasa perlu belajar mengenai biostarter, proses pengomposan, cara bercocok tanam, dan bioinsektisida. Skema model pemaduan ini tersaji pada Gambar 1.10. Pada model ini, tukar pengalaman dan pemanfaatan pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih lanjut disampaikan oleh Kemdikbud (2013:174), pada pelaksanaan model ini, guru membantu peserta didik untuk memadukan pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pengajaran melalui perspektif bidang yang disukai (area of interest). Sumber: Dok. KemdikbudGambar 1.10 Skema Model Pemaduan Immersed14Buku Guru Kelas IX SMP/MTsPetunjuk UmumKelebihan dari model ini adalah setiap peserta didik mempunyai ketertarikan pada mata pelajaran yang berbeda sehingga secara tidak langsung setiap peserta didik akan belajar dari peserta didik lainnya. Mereka terpacu untuk dapat menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain, keterpaduan tersebut berlangsung di dalam diri peserta didik itu sendiri. Kekurangan dari model ini adalah peserta didik yang tidak senang membaca sumber akan mendapat kesulitan untuk mengerjakan proyek ini, sehingga peserta didik menjadi kehilangan minat belajar. Lebih lanjut disampaikan oleh Kemdikbud (2013:174), model pemaduan ini dapat mempersempit fokus peserta didik.10. Networked Model (Model Jejaring )Model networked merupakan model pemaduan bahan ajar yang mengandaikan kemungkinan perubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, dan tuntutan bentuk keterampilan baru setelah peserta didik melaksanakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, dan konteks yang berbeda-beda. Skema pemaduan model ini tersaji pada Gambar 1.11. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus-menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi peserta didik. Menurut Kemdikbud (2013:174), model ini membelajarkan peserta didik untuk melakukan proses pemaduan topik yang dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya.Sumber: Dok. KemdikbudGambar 1.11 Skema Model Pemaduan NetworkedKelebihan dari model ini adalah peserta didik dapat memperluas wawasan pengetahuan pada satu atau dua mata pelajaran secara mendalam. Melalui model ini, peserta didik menjadi bersifat proaktif dan terstimulasi oleh informasi, keterampilan, atau konsep-konsep baru. Kekurangan dari model ini adalah kedalaman materi pelajaran yang dipahami secara tidak sengaja akan menjadi dangkal, karena mendapat hambatan dalam mencari sumber. Lebih lanjut disampaikan oleh Kemdikbud (2013:174), bahwa kekurangan dari model ini dapat memecah perhatian peserta didik serta 15Ilmu Pengetahuan Alamupaya-upaya yang dilakukan menjadi tidak efektif jika peserta didik tidak memiliki kemampuan melakukan penafsiran ulang atau refleksi terhadap pemahaman yang dimilikinya dan menerapkannya secara tepat.C. Pembelajaran IPA TerpaduPembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja memadukan beberapa pokok bahasan (Beane, 1995:615), mengaitkan beberapa aspek, baik intra maupun antarmata pelajaran. Pembelajaran terpadu mengimplikasikan perlunya membahas bidang kajian IPA (fisika, kimia, dan biologi) ke dalam materi IPA yang menyeluruh dan mengkombinasikan beberapa disiplin ilmu (Bybee, 2006).Menurut Fogarty (1991:62), pembelajaran terpadu memiliki makna sebagai pembelajaran yang terpadu dalam satu disiplin ilmu, terpadu antarmata pelajaran, dan terpadu dalam lintas peserta didik. Pembelajaran terpadu akan memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik, karena dalam pembelajaran terpadu peserta didik akan memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep-konsep lain yang sudah dipahami yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran terpadu merupakan pemaduan bidang studi IPA dengan bidang studi lainnya ataupun inter- bidang studi. Ada beberapa teori dan filsafat yang melandasi pembelajaran terpadu. Adapun landasan-landasan tersebut sebagai berikut.1. Teori Perkembangan dari PiagetTeori perkembangan Piaget meliputi tahap perkembangan kognitif sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Pada tahap sensorimotor (0—2 tahun), seseorang dapat membedakan diri sendiri dari objek, mulai dapat bertindak dengan sengaja misalnya menarik suatu dawai untuk membuat gerakan. Pada tahap pra-operasional (2—7 tahun), seseorang belajar dengan menggunakan bahasa, menunjukkan objek dengan gambar dan kata-kata, dan mengelompokkan benda berdasarkan suatu karakteristik, misal mengelompokkan benda berdasarkan bentuknya. Pada tahap operasional konkret (7-11 tahun), seseorang dapat berpikir secara logis tentang objek dan kejadian, menggolongkan objek menurut beberapa fitur. Pada tahap operasional formal (>11 tahun), seseorang dapat berpikir secara logis tentang dalil-dalil yang abstrak, merumuskan hipotesis dan mengujinya secara sistematis. Berdasarkan teori perkembangan Piaget, peserta didik SMP/MTs berada pada tahap operasional formal yang ditandai dengan kemampuan untuk memecahkan masalah yang abstrak secara logis, berpikir lebih ilmiah, serta mengembangkan perhatian tentang isu-isu sosial dan identitas sosial. 16Buku Guru Kelas IX SMP/MTsPetunjuk UmumKecepatan perkembangan kognitif setiap individu berbeda, tetapi tidak ada individu yang melompati salah satu tahap tersebut. Salah satu aspek terpenting dalam teori perkembangan Piaget adalah adaptasi lingkungan yang dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan penginterpretasian pengalaman baru dalam hubungannya dengan skema-skema yang telah ada. Akomodasi adalah pemodifikasian skema-skema yang ada untuk menyesuaikannya dengan situasi-situasi baru. Piaget juga mengemukakan faktor yang menunjang perkembangan intelektual seseorang, yaitu kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), pengalaman logika-matematik (logico-mathematical experience), transmisi sosial (sosial transmission), dan proses keseimbangan (equilibration) atau pengaturan-sendiri (self-regulation). Menurut Piaget (Arends, 2012) pembelajaran yang efektif harus melibatkan peserta didik secara mandiri melakukan eksperimen, mengamati fenomena yang terjadi, memanipulasi simbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya, mengonfirmasi temuannya dengan temuan lain, dan membandingkan temuannya dengan temuan orang lain.2. Teori Pembelajaran KonstruktivistikKonstruktivisme adalah filsafat pendidikan yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh peserta didik secara aktif melalui perkembangan proses mentalnya (Leinhart, 1992). Teori konstruktivistik menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses, dalam hal peserta didik secara aktif membangun makna dan pemahamannya terhadap realita melalui pengalaman dan interaksinya. Peserta didik menemukan dan mentrasformasikan sendiri suatu informasi kompleks apabila peserta didik tersebut menginginkan informasi tersebut menjadi miliknya.Menurut Tobins (dalam Arends, 2012), proses belajar tidak hanya cara seseorang memahami tentang fenomena, tetapi juga menyelesaikan permasalahan yang muncul karena fenomena tersebut. Belajar adalah membangun gagasan ilmiah melalui proses interaksi peserta didik dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme sebagai filosofipendidikan menganggap semua peserta didik memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam sekitarnya. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari hal-hal yang diketahui peserta didik.17Ilmu Pengetahuan Alam3. Teori VygotskyVygotsky berpendapat bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat seseorang berhadapan dengan pengalaman baru berupa masalah untuk dipecahkan. Vygotsky menekankan pengajaran dan interaksi sosial merupakan dasar dalam pengembangan pengetahuan peserta didik. Menurut Vygotsky setiap pembelajaran diperoleh melalui dua tahapan, yaitu mula-mula melalui interaksi dengan orang lain dan kemudian mengintegrasikannya ke dalam struktur mental setiap individu. Vygotsky percaya interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual. Teori Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran akan terjadi bilamana pengetahuan prasyarat yang dibutuhkan untuk memperoleh pengetahuan baru sudah dikuasai peserta didik. Penguasaan pengetahuan prasyarat ketika mempelajari pengetahuan baru, membuat pembelajaran yang dilakukan peserta didik menjadi lebih bermakna. Implikasi dari teori Vygotsky dalam pelaksanaan pendidikan adalah sebagai berikut. Pertama, perlunya tatanan kelas yang memungkinkan terjadinya pembelajaran melalui interaksi sosial (pembelajaran kooperatif) sehingga peserta didik dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif. Kedua, teori Vygotsky dalam pengajaran menekankan scaffolding, dengan semakin lama peserta didik semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri. Dengan kata lain, peserta didik perlu belajar dan bekerja secara kelompok sehingga peserta didik dapat saling berinteraksi dan diperlukan bantuan guru atau teman sejawat lainnya yang lebih mampu serta dapat memberikan scaffolding, dorongan, dukungan untuk belajar, dan memecahkan masalah. Scaffolding adalah pemberian sejumlah bantuan atau bimbingan pada peserta didik secara bertahap sampai peserta didik tersebut dapat melaksanakan proses belajarnya secara mandiri. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, pemberian contoh, uraian masalah menjadi lebih sederhana, dan sebagainya.4. Teori Belajar Sosial dari BanduraTeori Bandura atau belajar sosial meletakkan modelling (pemodelan) menjadi konsep dasar dalam belajar. Belajar dilakukan dengan mengamati perilaku orang lain (modelling) dan hasil pengamatan tersebut diperkuat dengan menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya atau mengulang kembali pengalaman sebelumnya. Cara demikian memberi kesempatan pada peserta didik tersebut untuk mengekspresikan perilaku yang dipelajarinya. 18Buku Guru Kelas IX SMP/MTsPetunjuk UmumTeori Bandura mengklasifikasi belajar menjadi empat fase, yaitu fase atensi, fase retensi, fase reproduksi, dan fase motivasi. Fase atensi adalah fase memberikan perhatian pada suatu pemodelan yang diberikan. Fase retensi adalah fase pengkodean karakteristik yang ditunjukkan pada saat pemodelan dan menyimpan kode-kode tersebut dalam memori jangka panjang. Fase reproduksi adalah fase pemberian kesempatan pada peserta didik untuk melihat komponen-komponen urutan perilaku yang telah dikuasainya. Fase motivasi adalah fase peserta didik untuk meniru karena dengan meniru yang dilakukan model, terjadi penguatan pada peserta didik. Pemberian penguatan yang menyertai kegiatan meniru model akan memotivasi peserta didik untuk menunjukkan perilakunya sebagai hasil belajar. Aplikasi fase motivasi di kelas biasanya dilakukan dengan pemberian pujian atau penghargaan berupa nilai pada peserta didik yang menunjukkan perilaku positif.5. Teori Belajar Penemuan dari BrunerTeori Bruner atau belajar penemuan (discovery learning) menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi ilmu yang dipelajari, perlunya belajar aktif, dan berpikir secara induktif dalam belajar. Bruner mengemukakan bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif jika kompleksitas materi yang dibelajarkan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pada tahap awal, materi pembelajaran dapat diberikan dengan memberikan contoh-contoh sederhana atau fenomena kontekstual yang dilanjutkan dengan fenomena yang lebih kompleks. Belajar melalui penemuan memberi peluang pada guru untuk memberikan contoh dan bukan contoh pada pembelajaran, terutama pada kegiatan awal atau apersepsi. Contoh dan bukan contoh tersebut memancing peserta didik berpikir menemukan hubungan antara bagian dari suatu struktur materi melalui pengajuan pertanyaan dan mencari jawaban pertanyaan tersebut. Cara demikian mengajar peserta didik berpikir induktif untuk menemukan hubungan antarkonsep berdasarkan informasi faktual.D. Tujuan dan Karakteristik Pembelajaran IPA TerpaduRuang lingkup mata pelajaran IPA menekankan pada pengamatan fenomena alam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, pembahasan fenomena alam terkait dengan kompetensi produktif dan teknologi, dengan perluasan pada konsep abstrak yang meliputi makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/zat/bahan dan sifatnya, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta yang meliputi aspek-aspek biologi, kimia, fisika, dan bumi dan alam semesta (Kemdikbud, 2014). Menurut Permendikbud tersebut, mata pelajaran IPA bertujuan agar peserta didik memiliki kompetensi sebagai berikut. 19Ilmu Pengetahuan Alam1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang aspek fisik dan materi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan manusia dalam lingkungan sehingga bertambah keimanannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya.2. Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif; dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pengamatan, percobaan, dan berdiskusi.3. Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan guna memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat bekerja sama dengan orang lain.4. Mengembangkan pengalaman untuk menggunakan, mengajukan, dan menguji hipotesis melalui percobaan, merancang, dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, serta mengomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.5. Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip IPA untuk menjelaskan pelbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.6. Menguasai konsep dan prinsip IPA serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan dan sikap percaya diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pembelajaran IPA terpadu memiliki karakteristik bahwa pembelajaran berpusat pada peserta didik, menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan, belajar melalui pengalaman langsung, lebih memperhatikan proses daripada hasil belajar, dan sarat dengan muatan keterkaitan.1. Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik (Aktif) Pembelajaran terpadu dikatakan berpusat pada peserta didik karena pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk bereksplorasi. Peserta didik aktif mencari, menggali, serta menemukan konsep dan prinsip-prinsip pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.2. Menekankan Pembentukan Pemahaman dan Kebermaknaan (Bermakna) Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari pelbagai aspek yang membentuk semacam jalinan antarskemata yang dimiliki peserta didik sehingga berdampak pada kebermaknaan materi yang dipelajari peserta didik. Peserta didik memperoleh hasil yang nyata tentang konsep-konsep yang diperolehnya dan keterkaitannya dengan konsep-konsep 20Buku Guru Kelas IX SMP/MTsPetunjuk Umumlain yang dipelajarinya. Hal ini berdampak pada kegiatan belajar peserta didik menjadi lebih bermakna. Dampak ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.3. Belajar Melalui Pengalaman Langsung (Autentik) Pada pembelajaran terpadu, peserta didik dilibatkan secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan peserta didik belajar dengan melakukan kegiatan secara langsung. Peserta didik diharapkan memahami hasil belajarnya sesuai fakta dan peristiwa yang dialaminya, bukan sekadar informasi dari gurunya. Pada pembelajaran terpadu, guru bertindak sebagai fasilitator dan katalisator yang membimbing peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai. Peserta didik sebagai pelaksana belajar mencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.4. Lebih Memperhatikan Proses daripada Hasil Belajar Pada pembelajaran IPA terpadu (pada jenjang pendidikan dasar) dikembangkan guided inquiry yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai proses penilaian. Pembelajaran terpadu dilaksanakan sesuai minat dan kemampuan peserta didik sehingga memungkinkan peserta didik termotivasi untuk belajar terus menerus.5. Sarat dengan Muatan Keterkaitan (Holistik) Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus. Pembahasan materi tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak sehingga memungkinkan peserta didik memahami suatu fenomena dari segala sisi. Hal ini diharapkan dapat membuat peserta didik lebih arif dan bijak dalam menyikapi kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-harinya.Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran terpadu antara lain sebagai berikut.1. Penggabungan pelbagai bidang kajian dalam satu tema akan menghemat alokasi waktu pembelajaran, karena keempat bidang kajian IPA (makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/zat/bahan dan sifatnya, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.2. Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep (makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/zat/bahan dan sifatnya, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta) Next >