< Previous 60 Vernis kopal dapat diaplikasikan dengan kuas maupun disemprotkan, namun umumnya pengkilapannya cukup dengan dikuaskan saja, mengingat kuwalitas hasil benda kerjanya tidak perlu sangat halus seperti pada reka oles yang menggunakan politur. Reka oles vernis paling sering dilakukan pada pelapisan akhir pada barang barang kerajinan kayu, bambu, dan tempurung kelapa, serta pelindung tahan air pada payung kertas, juga banyak dipakai pada perabot-perabot yang ditempatkan diberanda depan rumah, perabot asrama, serta perabor sederhan. Meskipun demikian, dengan teknik aplikasi yang baik, seorang tukang vernis atau tukang reka olles dapat menampilakan vernis yang halus sehalus hasil politur sellak, bahkan dengan stu unggulan lain yakni tahan terhadap air. Langkah aplikasi 1. Penyiapan permukaan benda kerja dengan menghaluskannya menggunakan amplas kerjasno 80-180 hingga permikaan bersih dari noda lem dan garis garis lem, gunakan teknik pengamplasan searah serat. 61 2. Lakukan pengisian pori pori kayu dengan menggunakan bubur filler yang berpelarut dari air, ditekan menggunakan spatula atau skrap mauupun dikuaskan kemudian digosok menggunakan kain hingga kering. Setelah permukaan kering betul kemudian diaplas menggunakan amplas kertas nomer 240 3. Lakukan penguasan dasar, dilakukan dengan vernis kopal, penguasan diawali dengan melakukan penguasan searah sert kayu, kemudian ditimpa ulang dengan melintang dan selanjutnya diakhiri dengan menguaskan searah serat lagi. Hal ini dilakukan agar menguasan benar benar sempurna menutupi permukaan kau, biarkan benda kerja selama 2-3 jam agar benar benar kering. 4. Langkah berikutnya adalah mengamplas dengan menggunakan amplas kertas dengan nomor 320 , hal ini dilakukan untuk menghilangkan goresan goresan kuas. Pengamplasan ini dilakukan menggunakan teknik basah hal ini akan lebih baik dilakukan dari pada pengamplasan kering, tapi perlu diperhatikan permukaan kayunya, jangan terkena air. 5. Langkah kelima adalah langkah terakhir dan yang terpenting, pelapisan ini disebut dengan pelapisan akhir atau (Top Coat) yakni penguasan dengan varnis 62 yang telah diencerkan menggunakan minyak cat atau terpentin hingga kekentalanya terukur pada 12,5 detik, pengukuran ini dilakukan menggunakan mangkuk viskositas DIN 4 atau Ford cup 4, sehingga vernis mudah dikuaskan atau lebih lancar bila harus dilakukan menggunakan penyemprotan. Apabila ingin hasil varnis ingin berhasil lebih bagus, tahap top coat ini dapat dilakukan pengulangan sekali lagi dengan terlebih dahulu dilakukan pengamplasan dengan no 400 setelah top coat pertama kering betul c. Tugas 1. Apa yang harus dilakukan bila permukaan benda kerja masih dalam kondisi belum siap dilakukan pada finishing pekerjaan varnis 2. Mengapa pada pekerjaan varnis tidak perlu dilakukan pengisian pori pori dengan plamur 3. Coba kamu uraikan kembali tentang prosedur aplikasi pekerjaan finishing varnish 63 5. Kegiatan belajar 5. Latihan pekerjaan finishing dengan varnish a. Tujuan Kegiatan Pemelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 4, di harapkan siswa dapat: Melakukan persiapan bahan dan peralatan finishing varnish sesuai kebutuhan. Melaksanakan pengampelasan seluruh permukaan benda kerja dengan kertas ampelas no. 180. Melaksanakan pekerjaan mengolesan dasar varnish Melaksanakan pekerjaan varnish akhir (top coating). b. Lembar kerja 1. Alat yang digunakan Kuas cat Kaleng tempat adonan Tongkat pengaduk cat Pisau dempul Sekrap/alat pengikis Sanding block (wood block) Masker kerja Sarung tangan 2. Bahan yang digunakan. Dempul kayu varnish Terpentin atau afdumer 64 Kain majun (lap) 3. Benda kerja, yang akan di finishing, contoh: meja taman, kursi taman, bak sampah atau jenis perabot yang terletak atau di pakai di luar rumah. 4. Keselamatan kerja. Aduklah varnish secara merata sebelum si tuangkan pada tempat adonan lain. Tuangkan varnish secukupnya Gunakan alat sesuai kebutuhan Periksa ulang benda kerja sebelum pengecatan di mulai Hati-hati menggunakan ampelas pada setiap sudut atau akhir pengampelasan karena akan menimbulkan kebotakan. 5. Langkah kerja. Menyiapkan peralatan pengecatan dan perlengkapannya Mengampelas seluruh permukaan kayu. Melaksanakan pendempulan lubang-lubang atau jenis kerusakan lainya pada benda kerja Mengampelas permukaan dempul (benda kerja) dengan ampelas kasar. Memeriksa permukaan yang belum sempurna dan memperbaiki atau mengolesi kembali plamur , kemudian mengampelas bagian yang di perbaiki sampai halus. Mengaduk varnish (khusus cat kayu) dan menuangkan pada tempat adonan (kaleng) lain 65 Mengoleskan varnish dasar dengan kuas secara merata. Tarikan kuas diyakinkan lurus ke kiri atau ke kanan Setelah kering, permukaan dapat di ampelas dengan kertas ampelas no. 240-320 Catatan : untuk menghemat kertas ampelas dan mempermudah pengampelasan, gunakan ampelas jenis silicon karbid yang bisa mengampelas dengan menggunakan air. Membersihkan permukaan benda dari debu-debu pengampelasan. Melakukan top coating dengan dengoleskan kembali lapisan varnish bila permukaan lapisan dasar maupun lapisan ke dua telah mongering. Membersihkan dan merapihkan semua peralatan kerja pada tempatnya. 6. kunci hasil kerja Kerataan permukaan lapisan plamur akan menentukan tingkat kerataan varnish Pengulangan penguasan varnish yang berlebihan(terlalu tebal) akan mempengaruhi lamanya kering, timbul gelombang-gelombang dan mengakibatkan awal kerusakan varnish berikutnya Kebersihan peralatan terutama kuas cat akan mempengaruhi hasil pengecatan Pengampelasan antar permukaan(antar media) penting serta penggunaan ampelas. Yang tepat akan 66 menghasilkan permukaan varnish yang benar-benar rata dan halus Membersihkan kuas secara berkala C. Lembar Penilaian Praktek Nama Siswa : 67 Nomor Induk : Program Keahlian : Jenis Pekerjaan : Pedoman Penilaian No Aspek Penilaian Skor Max Skor Perolehan Keterangan 1 2 3 4 5 I Perencanaan/persiapan 1. Persiapan alat 2. Persiapan bahan 4 4 II Pekerjaan prafinishing 3. meratakan benda kerja 4. melakukan stopping 5. pengamplasan akhir 4 4 4 III Proses pelaksanaan 6. penguasa varnish dasar 7. pengamplasan setiap tahapan 8. pekerjaan top coating 15 15 15 IV Kualitas Produk Kerja 9. keratan pengecatan 10. kehalusan permukaan 11. pengkilatan 8 8 8 V Keselamatan Kerja 8 VI Ketepatan Waktu 7 JUMLAH SKOR PEROLEHAN = ( ) Catatan: Siswa lulus dalam kompetensi ini bila mendapatkan nilai minimal 7 (tujuh) 68 6. Kegiatan Belajar 6; Mengenal Bahan Franch Pholish a. Tujuan pembelajaran Setelah selesai mempelajari dan melaksanakan materi pada modul ini peserta diharapkan dapat: 1) Menguraikan bahan dasar pembuatan politur trasisional/ French polish dan bahan politur fabrikan 2) Melaksanakan pekerjaan timber preparation dan timber stopping pada benda kerja dengan bahan yang sesuai dengan prosedur yang benar. 3) Melaksanakan pembuatan adonan politur dengan campuran shellac dan spirtus sesuai dengan perbandingan yang baik dan benar. b. Uraian materi 12) Pengamatan Pernahkah kalian membuat suatu larutan/ adonan politur?, atau mengaduk sutu cat yang pernah kalian lakukan , tentunya dalam suatu larutan ada bahan pelarut (solven) dan bahan yang dilarutkan(pigmen), entah apa itu jenisnya haruslah bahan bahan tersebut mempunyai sifat sifat yang bisa disatukan. Tidak mungkin cat tembok dicampur dengan minyak tanah atau cat besi dicampur dengan air. Nah sekarang tahukah kalian / apa yang kalian ketahui tentang larutan politur? 69 Diskusikan dengan temanmu Uraikan dengan jelas apa saja jenis bahan bahan politur dan apa bahan pelarutnya, setelah itu pergilah ke toko bangunan tanyakan tentang bahan cat yang menamakan politur, tuliskan fungsi dan kegunaannya. Dan sebahgai tambahan kamu dapat mencari informasi didalam buku bahan ajar ini atau sumber sumber informasi lain, buku teks,majalah atau di internet. Presentasikan hasil kegiatanmu di kelas dengan bergantian dari kelompok lain. Buatlah kesimpulan dari hasil kegiatan diskusi dengan teman kelompok. 13) Bahasan materi; Finishing Politur/ Franch pholish French Polish atau di Indonesia lebih dikenal masyarakat dengan nama “Politur”, telah lama tumbuh dan membumi di masyarakat. Hanya saja mereka melakukan pekerjaan politur tersebut belum maksimal, sehingga hasilnyapun belum dapat dikatakan, memuaskan. Memang untuk mendapatkan hasil yang berkualitas tinggi diperlukan suatu proses, memakan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu politur sesungguhnya lebih mahal jika dibandingkan dengan polish dari jenis lain. Bagi sebagian orang politur tidak disenangi karena adanya bahan polish lain yang lebih mudah didapat, mudak dipakai dan lebih cepat dalam aplikasinya serta mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Polish yang dimaksud merupakan hasil dari rekayasa teknologi. Tetapi politur ini bagi orang-orang tertentu yang memiliki selera keindahan dan seni yang tinggi menjadi pilihan nomor satu, karena politur adalah citra manusia exclusive sejak jaman dahulu. Oleh karena itu sampai Next >