< Previous 78 Tubrukan kapal dengan benda-benda alam seperti gunung es, karang atau daratan mungkin saja dapat terjadi. 2) Reaksi muatan Kapal dapat memuat bermacam-macam barang, baik benda padat, cair maupun gas. Umumnya bentuk dan sarana kapal serta prosedur keselamatan disesuaikan dengan jenis muatan yang akan dibawa. Beberapa jenis muatan yang tergolong muatan berbahaya dapat secara tidak langsung dapat menimbulkan keadaan darurat. Muatan-muatan tertentu memiliki skala bahaya tertinggi seperti mudah terbakar misalnya LPG, minyak tanah, solar, avtur dan sebagainya atau bahan-bahan peledak. Akibat kenaikan suhu pada ruang penyimpanan dapat saja terjadi bahaya kebakaran atau ledakan. 3) Kebakaran atau ledakan Kebakaran di kapal dapat terjadi akibat hubungan pendek arus listrik, kesengajaan (sabotase), keteledoran manusia (membuang rokok sembarangan, lupa mematikan kompor dan lain-lain) atau akibat dari keadaan darurat sebelumnya seperti tubrukan, ledakan (mesin, kompor atau bahan peledak) atau reaksi muatan. Namun mungkin saja terjadi sebaliknya, kebakaran disusul dengan ledakan atau bereaksinya muatan. Tempat-tempat rawan kebakaran di kapal antara lain: kamar mesin, dapur, ruang muatan, gudang dan ruang akomodasi. 79 Gambar 24. Kebakaran kapal 4) Kandas Kandas dapat saja terjadi akibat faktor manusia, alam, teknis atau gabungan faktor-faktor tersebut. Pada saat kapal tidak bergerak, posisi kapal sangat tergantung pada jenis dasar perairan. Akibat kandas dapat berupa olah gerak kapal yang terbatas dan robeknya lambung kapal, terutama apabila kandas di daerah berkarang. Akibat kandas dapat menimbulkan kondisi bahaya lainnya seperti tenggelam, kebakaran, dan pencemaran. Kapal kandas pada umumnya didahului dengan tanda-tanda: a) Putaran baling-baling terasa berat (suara mesin utama kapal terdengar berbeda) b) Asap kapal mendadak menghitam. c) Badan kapal bergetar. d) Kecepatan kapal mendadak berhenti. e) Air laut terlihat keruh. 80 Kapal kandas dapat bersifat permanen atau sementara berdasarkan kondisi kerusakan kapal akibat kandas, arus, pasang surut, gelombang, jenis dasar perairan, dan lain-lain. Gambar 25. Kandas dapat menyebabkan sebuah kapal miring dan kemasukan air 5) Kebocoran Kondisi yang sangat berbahaya ini umumnya akibat susulan dari keadaan darurat sebelumnya seperti kandas, tubrukan dan ledakan. Namun kebocoran dapat juga terjadi akibat terbukanya katup-katup instalasi air atau rusaknya dinding kapal akibat benturan ombak, karat atau akibat kelalaian manusia. 6) Tenggelam atau terbalik Akibat keadaan darurat seperti tubrukan, kebakaran (ledakan) dan kebocoran dapat diikuti dengan bahaya tenggelam atau terbalik. Pada umumnya bahaya terbalik hanya terjadi pada kapal yang terbuat dari kayu atau fiber yang daya apungnya masih dapat menahan beban yang ada di kapal. 81 Gambar 26. Kapal kayu terbalik 7) Pencemaran Membuang sampah, tumpahan minyak (disengaja atau tidak), buangan limbah kamar mesin atau tangki merupakan tindakan pencemaran laut. Pada skala tertentu kondisi pencemaran laut dianggap sebagai kondisi yang berbahaya. 8) Kerusakan kemudi kapal Kemudi merupakan peralatan vital sebuah kapal yang digunakan untuk mengarahkan haluan kapal. Apabila terjadi kerusakan pada kemudi maka kapal tidak dapat dikendalikan dan berolah gerak yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi berbahaya seperti tubrukan, terbalik, terhanyut, atau kandas. 9) Orang jatuh ke laut Jatuhnya orang ke laut baik karena ketidaksengajaan maupun sengaja merupakan keadaan darurat di kapal. Prosedur penyelamatan apabila melihat orang yang jatuh ke laut akan dibahas pada bab selanjutnya. 82 e. Persiapan Keadaan Darurat Untuk mencegah kerugian materi dan jiwa yang lebih besar apabila tetap terjadi keadaan darurat maka sebuah kapal diwajibkan telah memiliki: 1) Perencanaan Perencanaan dan persiapan adalah syarat utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan keadaan darurat di kapal. Nahkoda dan para perwira harus menyadari apa yang mereka harus lakukan pada keadaan darurat yang bermacam-macam, misalnya kebakaran di tangki muatan, kamar mesin, kamar ABK dan orang pingsan di dalam tangki, kapal lepas dari dermaga dan hanyut, cara kapal lepas dermaga dan lain-lain. Harus dapat secara cepat dan tepat mengambil keputusan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi segala macam keadaan darurat. Untuk melakukan persiapan penanggulangan keadaan darurat maka sebelumnya perlu diketahui beberapa informasi dan data mengenai: a) Jenis dan jumlah muatan/penumpang. b) Pengaturan muatan. c) Stabilitas kapal d) Rencana penanggulangan kondisi darurat (sijil bahaya) e) Rencana penanggulangan antara lain berupa membuat jalur lintas penyelamatan, menyiapkan sarana/fasilitas keselamatan, melakukan latihan keselamatan/evakuasi dan lain-lain. 2) Struktur Organisasi Keadaan Darurat. Nakhoda, perwira dan ABK harus telah merencanakan dan mempersiapkan sebuah struktur organisasi dan rencana khusus dalam 83 mengantisipasi keadaan darurat yang membagi awak kapal menjadi beberapa kelompok dengan tugas-tugas tertentu. Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah: a) Menyatakan kondisi keadaan darurat dengan segera menghidupkan tanda bahaya. b) Menemukan dan menaksir kondisi kejadian dan kemungkinan bahaya yang akan terjadi. c) Mengorganisir tenaga dan peralatan untuk menanggulangi keadaan darurat. Pembagian dan tugas-tugas kelompok dalam organisasi keadaan darurat yaitu: a) Pusat Komando Di bawah pimpinan langsung nakhoda kapal atau perwira senior yang merupakan pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi keadaan darurat. Bertugas mengatur dan mengontrol kegiatan kelompok/satuan di bawahnya. Pusat komando dilengkapi dengan perangkat komunikasi intern dan ekstern. b) Satuan Keadaan Darurat Dipimpin oleh seorang perwira, kelompok ini merupakan satuan inti penanggulangan keadaan darurat. Bertugas melaporkan jenis dan situasi kondisi darurat serta menyarankan jenis dan tindakan yang harus dilakukan kepada pusat komando. c) Satuan Pendukung Kelompok pendukung ini dipimpin oleh seorang perwira. Bertugas membantu satuan inti dengan perintah pusat komando dan 84 menyediakan bantuan pendukung seperti perbekalan, peralatan, bantuan medis, obat-obatan dan lain-lain. d) Kelompok Ahli Mesin Kelompok yang memiliki tanggungjawab utama di ruang mesin ini berada di bawah pimpinan perwira mesin senior. Kelompok ahli mesin bersiap untuk memberikan bantuan bila diperlukan dengan perintah pusat komando. Maksud dan tujuan organisasi bagi setiap situasi adalah untuk: a) Menghidupkan tanda bahaya. b) Menemukan dan menaksir besarnya kejadian dan kemungkinan bahayanya. c) Mengorganisasi tenaga dan peralatan. Keuntungan dibuatnya organisasi penanggulangan keadaan darurat, antara lain: a) Tugas dan tanggung jawab tidak terlalu berat, karena dipikul bersama-sama serta berbeda-beda. b) Tugas dan tanggung jawab dapat tertulis dengan jelas dengan demikian dapat mengurangi tindakan-tindakan yang kurang disiplin. c) Hanya ada satu pimpinan (komando), sehingga perintah, instruksi dan lain-lain akan lebih terarah, teratur dan terpadu, terhindar dari kesimpangsiuran. d) Dapat terhindar dari hambatan hirarki formal yang selalu ada dalam perusahaan, karena petugas dari berbagai bidang yang diperlukan semuanya sudah tergabung dalam satu bentuk organisasi. e) Apabila terjadi suatu kegagalan karena melaksanakan tugas yang tertentu, maka hal ini dapat segera dipelajari kembali untuk perbaikan. 85 f) Dengan adanya organisasi keadaan darurat, maka semua individu merasa saling terkait. f. Pola Penanggulangan Keadaan Darurat Mengintegrasikan aktivitas dan upaya penanggulangan keadaan darurat secara cepat, tepat dan terkendali dengan dukungan instansi terkait, sumber daya manusia dan fasilitas yang tersedia merupakan pola penanggulangan keadaan darurat. Langkah antisipasi keadaan darurat tersebut meliputi: 1) Pendataan kondisi bahaya yang terjadi terhadap kapal, manusia, muatan, lingkungan dan dermaga atau kapal lain. 2) Peralatan disesuaikan dengan keadaan darurat yang terjadi dengan memperhatikan kemampuan sumber daya manusia yang ada baik dari awak kapal, tim SAR atau pihak lain. 3) Mekanisme kerja merupakan sistem yang harus dimiliki dan ditetapkan secara baku untuk penanggulangan semua jenis keadaan darurat yang melibatkan beberapa pihak yang terkait. Dengan memahami pola penanggulangan keadaan darurat ini dapat diperoleh manfaat: 1) Mencegah (menghilangkan) kemungkinan kerusakan akibat meluasnya kejadian darurat itu. 2) Memperkecil kerusakan-kerusakan mated dan lingkungan. 3) Dapat menguasahi keadaan (Under control). g. Tindakan Pendahuluan Seseorang yang pertama kali mengetahui terjadinya keadaan darurat harus membunyikan tanda bahaya, melaporkan kepada perwira jaga yang 86 kemudian menyiapkan organisasi, sementara itu yang berada di lokasi segera mengambil tindakan untuk mengendalikan keadaan sampai diambil alih oleh organisasi keadaan darurat. Setiap orang harus tahu dimana tempatnya dan apa tugasnya termaksud kelompok pendukung harus stand-by menunggu perintah selanjutnya. h. Mekanisme kerja Setiap kapal harus mempunyai team-team yang bertugas dalam perencanaan dan pengeterapan dalam mengatasi keadaan darurat. Keadaan-keadaan darurat ini harus meliputi semua aspek dari tindakan-tindakan yang harus diambil pada saat keadaan darurat serta dibicarakan dengan penguasa pelabuhan, pemadam kebakaran, alat negara dan instansi lain yang berkaitan dengan pengarahan tenaga, penyiapan prosedur dan tanggung jawab, organisasi, sistem, komunikasi, pusat pengawasan , inventaris dan detail lokasinya. Tata cara dan tindakan yang akan diambil antara lain: 1) Persiapan, yaitu langkah-langkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan darurat tersebut berdasarkan jenis dan kejadiannya. 2) Prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti dari beberapa kegiatan/bagian secara terpadu. 3) Organisasi yang solid dengan garis-garis komunikasi dan tanggung jawabnya. 4) Pelaksanaan berdasarkan 1, 2, dan 3 secara efektif dan terpadu. 5) Prosedur di atas harus meliputi segala ma cam keadaan darurat yang ditemui, baik menghadapi kebakaran, kandas, pencemaran, dan lain-lain dan harus dipahami benar oleh pelaksana yang secara teratur dilatih dan dapat dilaksanakan dengan baik. 87 Keseluruhan kegiatan tersebut di atas merupakan suatu mekanisme kerja yang hendak dengan mudah dapat diikuti oleh setiap manajemen yang ada di kapal, sehingga kegiatan mengatasi keadaan darurat dapat berlangsung secara bertahap tanpa harus menggunakan waktu yang lama, aman, lancar dan tingkat penggunaan biaya yang memadai. untuk itu peran aktif anak buah kapal sangat tergantung pada kemampuan individual untuk memahami mekanisme kerja yang ada, serta dorongan rasa tanggung jawab yang didasari pada prinsip kebersamaan dalam hidup bermasyarakat di kapal. Mekanisme kerja yang diciptakan dalam situasi darurat tentu sangat berbeda dengan situasi normal, mobilitas yang tinggi selalu mewarnai aktifitas keadaan darurat dengan lingkup kerja yang biasanya tidak dapat dibatasi oleh waktu karena tuntutan keselamatan. Oleh sebab itu loyalitas untuk keselamatan bersama selalu terjadi karena ikatan moral kerja dan dorongan demi kebersamaan. i. Sijil Darurat Sijil darurat merupakan skenario tentang perincian prosedur, tanggungjawab dan tugas-tugas yang berlaku pada setiap awak kapal pada kondisi berbahaya. Oleh sebab itu sijil darurat harus dibuat dan diinformasikan pada seluruh awak kapal. Sijil darurat digantungkan di tempat strategis, sesuai, mudah capai, mudah dilihat, dan mudah dibaca oleh seluruh penumpang dan awak kapal. Sijil darurat berisi perincian prosedur dalam keadaan darurat. Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam sijil darurat adalah: 1) Menentukan tempat bertugas (pos) setiap ABK dan tempat berkumpul penumpang pada keadaan darurat. Next >