< Previous 98 a) Jaket/Rompi Penolong (Life Jacket) Lifejacket atau rompi penolong adalah alat untuk mengapungkan orang yang menggunakannya dengan benar di atas air/laut. Alat yang digunakan untuk perorangan ini berbentuk seperti rompi yang membalut tubuh. Rompi penolong akan menahan tubuh bagian atas pemakai tetap terapung di atas permukaan air. Gambar 29. Rompi penolong dan lambangnya Ada beberapa jenis rompi penolong yang sering digunakan dengan beberapa perbedaan bentuk dan cara pemakaian. Biasanya jenis rompi penolong yang sering digunakan sambil bekerja adalah yang menggunakan resleting dan tali yang ujungnya memiliki pengait. Karena memiliki bentuk ringkas yang tidak mengganggu gerakan ketika bekerja. Sedangkan jenis rompi penolong yang khusus untuk keselamatan memiliki pelampung yang lebih besar dan hanya menggunakan tali saja. Setiap rompi penolong dilengkapi dengan sebuah peluit yang terikat pada bagian dada/atas kiri rompi penolong. 99 Gambar 30. Kenakan rompi penolong dengan cepat dan tepat Baju penolong ini harus dirancang dengan baik dan terbuat dari bahan yang layak sedemikian rupa sehingga memenuhi ketentuan berikut: Dapat dengan mudah dikenakan, kuat dan isinya tidak mudah keluar. Dibuat sedemikian rupa untuk mengurangi kekeliruan (terbalik) ketika memakainya, Dapat menopang kepala seseorang yang kehabisan tenaga atau tidak sadarkan diri dengan muka berada di atas air dan badan miring/condong ke bawah (terlentang) dengan sudut tertentu. Dapat memutarkan badan seseorang yang berada di air dari segala posisi ke posisi terlentang. Tidak terpengaruh oleh minyak atau bahan lain yang mengandung minyak. Dapat dengan mudah dilihat (warna menyolok). Daya apungnya tidak boleh kurang lebih dari 5% setelah 24 jam berada di air tawar. Tidak terbakar/meleleh setelah terbakar selama 2 detik. Nyaman dikenakan 100 Harus mampu menahan benturan ketika digunakan melompat dari ketinggian minimal 4,5 meter. Memiliki daya apung dan stabilitas tinggi. Harus mudah dan cepat dikenakan dengan estimasi kurang lebih waktu 1 menit Harus dilengkapi dengan peluit (sempritan) yang diikat kuat dengan tali. Dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala sendiri yang mempunyai intensitas 0,75 x cahaya lilin dengan daya tahan menyala minimal 8 jam. Lampu rompi penolong memiliki kerlipan 50 kali/menit. Dilengkapi alat pemantul cahaya (reflektor) pada bagian dada dan punggung. Gambar 31. Lampu yang dapat menyala sendiri pada rompi penolong 101 Gambar 32. Reflector pada rompi penolong Jumlah dan penempatan baju penolong di atas kapal-kapal penumpang harus tersedia tambahan 5% dari jumlah orang yang berada di kapal sebagai cadangan. Baju penolong ini ditempatkan di ruangan-ruangan atau di geladak yang dapat dan mudah terlihat, mudah dijangkau dan harus diberi petunjuk yang jelas. Ketentuan jumlah rompi penolong adalah sebagai berikut: Sesuai dengan jumlah awak kapal dan penumpang yang ada, masing-masing satu rompi penolong Tersedia rompi penolong ukuran anak-anak sebanyak 10% dari jumlah seluruhnya. Untuk kapal penumpang, harus tersedia cadangan 5% dari jumlah seluruhnya dan disimpan di store deck. Petunjuk menggunakan kedua jenis rompi penolong: Rompi penolong dengan resleting 102 Kenakan rompi penolong seperti memakai baju dengan bagian depan yang ada resletingnya. Masukan ujung resleting agar saling mengait, kemudian naikan hingga leher agar rompi penolong membalut badan. Atur tali agar pengait dapat disatukan dan rompi penolong membalut badan dengan cukup ketat namun tetap mudah bernafas. Pastikan pengait telah saling mengait dengan benar untuk menghindari kemungkinan rompi penolong terlepas dari tubuh ketika meloncat dari kapal atau terhantam gelombang besar. Gambar 33. Rompi penolong dengan resleting 103 Gambar 34. Rompi penolong tali Rompi penolong dengan tali Kenakan rompi penolong melewati kedua bahu dengan kedua tali kanan dan kiri berada di bawah ketiak. Pastikan kedua tali telah masuk melewati lubang tali yang berada di ujung rompi penolong bagian depan. Pegang kedua tali dengan tangan kanan dan kiri, kemudian tarik ke belakang dengan kencang. Putarkan tali melewati bagian belakang pinggang dengan tetap menjaga kekencangannya. Bawa kedua tali kebagian depan dada melewati sela-sela pelampung rompi penolong. Dengan tetap menjaga kekencangan, ikatkan tali dengan simpul mati untuk menghindari kemungkinan terlepas akibat benturan atau direbut orang lain. Usahakan kekencangan tali tidak mengganggu jalannya pernapasan. Tarik tali pada bagian atas rompi penolong yang melingkari leher. 104 Ikatkan dengan kuat untuk menyangga kepala ketika berada di air. Pastikan rompi penolong telah kuat membalut tubuh. Lakukan pengetesan dengan memukul/mendorong bagian bawah rompi penolong ke arah atas. Apabila rompi penolong tidak banyak bergeser maka dapat dipastikan pemasangan telah dilakukan dengan benar dan ketat. b) Pelampung penolong (Lifebouy) Pelampung penolong termasuk dalam alat penolong perorangan yang digunakan untuk mengapungkan orang yang menggunakannya. Terbuat dari busa yang dilapisi kain atau fiberglass. Berbentuk ring (bulat dengan lubang di tengahnya). Pelampung penolong sebagai alat penolong yang dapat mengapungkan korban jatuh di laut sementara menunggu pertolongan lebih lanjut, harus memenuhi syarat sebagai berikut: Diameter luar 800 mm dan diameter dalam 400 mm. Dibuat dari gabus yang utuh atau bahan lain yang sepadan. Dapat tetap terapung di air tawar selama 24 jam dengan beban besi seberat 14,5 Kg. Tidak terbakar/meleleh setelah terkurung api selama 2 detik. Tidak boleh terpengaruh oleh minyak atau bahan lain yang mengandung minyak. Mampu menahan benturan dengan air ketika dilemparkan dari ketinggian 30 meter. Diberi warna yang menyolok (orange). Ditandai dengan tulisan huruf besar/balok, nama kapal dan pelabuhan tempat kapal yang membawanya didaftarkan. 105 Memiliki berat tidak kurang dari 2,5 kg. Dilengkapi dengan alat pemantul cahaya (reflector) Dilengkapi dengan tali pegangan diameter 95 mm yang diikat kuat sekeliling pelampung dengan panjang 4 x diameter luar. Gambar 35. Lambang lifebuoy (kiri), lifebuoy yang dilengkapi dengan lampu dan smoke signal (kanan) Gambar 36. Lambang lifebuoy dengan tali penyelamat (lampu) yang biasanya digunakan untuk menolong orang yang jatuh ke laut Pelampung penolong yang juga digunakan untuk keselamatan individual berbentuk bulat seperti ban mobil yang dilengkapi dengan tali untuk mengaitkan lengan tangan. 106 Gambar 37. Lifebouy Sebagian dari pelampung penolong yang ditempatkan di kapal dapat diperlengkapi dengan peralatan sebagai berikut: Tali penyelamat yang dapat mengapung, sepanjang tidak kurang dari 15 depa atau 27,5 meter. Lampu yang dapat menyala sendiri (secara otomatis) dari jenis lampu listrik (baterai), harus dapat tetap menyala selama 120 menit dengan kekuatan cahaya tidak kurang dari dua nyala lilin (candles) kesemua arah/keliling cakrawala dan tahan air. Isyarat yang dapat bekerja sendiri untuk menghasilkan asap dengan efisien dan warna menyolok selama 15 menit. 107 Gambar 38. Penyimpanan lifebuoy pada tempatnya agar dapat terlepas sendiri Penempatan pelampung penolong: Pelampung penolong ditempatkan di tempat yang paling tinggi di kapal pada tempatnya. Pelampung penolong dengan tali penyelamat yang sering digunakan untuk menolong orang yang jatuh ke laut di tempatkan di ruang publik/lokasi yang banyak orang, mudah dilihat dan diambil. Tempatkan satu pelampung penolong yang dilengkapi tali penyelamat dan smoke signal di anjungan. Gambar 39. Pelampung penolong ditempatkan di lokasi tertinggi di kapal atau di tempat umum Next >