< Previous32 Buku Guru Kelas VIII SMP 32 Buku Guru Kelas VIII SMP 4. Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.4.1. Menyajikan karya yang berkaitan dengan cara hidup beriman dan berpengharapan dalam bentuk tindakan nyata. Indikator Hasil Belajar: 1. Mensyukuri dirinya dianugerahi iman kepada Yesus Kritus2. Menjelaskan makna hidup beriman dan memelihara iman3. Menceritakan bagaimana siswa dan keluarganya memelihara iman4. Mendeskripsikan implikasi iman dan percaya dalam kehidupan siswa berupa kesan dan pesan.A. PengantarPelajaran ini membahas mengenai hidup beriman dan bagaimana memelihara iman. Remaja SMP kelas VIII perlu belajar mengenai iman, bagaimana mempertahankan dan memelihara iman. Melalui pembelajaran ini diharapkan siswa termotivasi untuk menerapkan hidup sebagai orang beriman dan memelihara imannya dengan cara setia berdoa dan membaca Alkitab. Remaja SMP kelas VIII menghadapi berbagai persoalan di sekolah, di rumah maupun di lingkungan sosial lainnya. Krisis kepercayaan diri dapat menyebabkan remaja tidak memiliki pegangan hidup. Apalagi jika orang tua sibuk mencari nafkah dan menghadapi berbagai urusannya sendiri, merupakan tugas Pendidikan Agama Kristen untuk memperlengkapi remaja dengan pemahaman iman yang benar. Melalui pemahaman ini, mereka mampu menjadikan iman sebagai acuan dalam membangun dirinya.Topik ini cukup berat bagi remaja, karena itu guru dianjurkan untuk mencoba menghubungkan prinsip-prinsip iman dengan realitas kehidupan remaja. Ketika membahas mengenai iman, ada unsur “percaya” dimana manusia tidak hanya mengandalkan akal budi saja namun juga hati nurani. Misalnya, beriman kepada Yesus Kristus. Mungkin masih sulit bagi siswa Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 33Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 33untuk memahami bagaimana menerapkan imannya kepada Yesus Kristus. Remaja menginginkan sesuatu yang nyata, yang realistik sedangkan iman dan percaya menuntut gerakan hati manusia untuk percaya “tanpa melihat” sebagaimana Tomas dulu bersikap terhadap kebangkitan Yesus. Untuk itu Yesus mengatakan: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”B. Apa itu Iman?Kata “iman” dalam Perjanjian Lama berarti “berpegang teguh”. Beriman berarti berpegang teguh pada keyakinan yang dimiliki akan suatu hal, karena hal itu dapat dipercaya dan diandalkan. Demikianlah iman selalu berkaitan dengan “percaya”. Kata “pengharapan” juga tidak terlepas dari iman kepada Tuhan. Iman membangkitkan pengharapan, sekaligus mendorong seseorang untuk mewujudkan pengharapannya itu.Apabila kita percaya dan berpegang teguh kepada Yesus dengan segenap jiwa, hati dan akal budi kita, maka apa yang dikehendaki-Nya atas diri kita pasti terjadi. Inilah pengharapan dalam iman kita kepada-Nya. Sifat iman itu aktif; artinya, kita benar-benar yakin akan kebenaran Firman Tuhan dan sungguh-sungguh melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, jika kita mengaku beriman kepada Yesus, tetapi hanya di dalam ucapan saja, tanpa perilaku yang menunjukkan iman itu, maka sebenarnya iman kita itu sudah mati (Lihat Yakobus 2:17).Menurut Ibrani 11:1, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Artinya, iman percaya itu akan terlihat dalam perbuatan. Iman percaya itu dapat melihat dan meyakini sesuatu hal yang belum kita lihat. Misalnya, kepercayaan tentang esus Kristus yang tidak pernah kita lihat secara fisik namun kita percaya pada-Nya berdasarkan kesaksian Alkitab. Iman merupakan anugerah Allah yang dicurahkan bagi orang yang percaya dan berharap kepada-Nya serta melakukan kehendak-Nya. Jadi, dalam iman ada unsur percaya dan pengharapan. Beriman artinya mengamini janji-janji Allah di dalam Yesus Kristus dengan segenap hati, akal budi, dan perbuatan.Menurut Paulus, “kebenaran Allah nyata dari iman“. Jika manusia tidak beriman, mana mungkin membangun hubungan yang erat dengan Allah. Iman merupakan anugerah Allah bagi orang percaya, namun anugerah itu hanya dapat diberikan bagi orang yang benar-benar membuka hatinya untuk Allah. Manusia sering mengalami “jatuh bangun” dalam kehidupan beriman. 34 Buku Guru Kelas VIII SMP 34 Buku Guru Kelas VIII SMP Ketika hidup senang dan semuanya berjalan lancar, manusia cenderung melupakan Allah, namun ketika hidup tidak berjalan lancar dan banyak kesusahan, manusia akan mencari Allah. Namun Allah selalu setia pada umat-Nya, Ia mencari, mengampuni dan menyelamatkan manusia meskipun manusia meninggalkan-Nya. Yakobus 1:6-8 bahwa manusia yang mendua hati antara percaya dan tidak percaya dan hidupnya diombang-ambingkan oleh gelombang kehidupan tidak akan memperoleh apa-apa dari Allah. Sebaliknya, jika manusia teguh dalam iman niscaya ia memperoleh apa yang dimintanya dari Allah. Bahwa berbagai kesulitan hidup merupakan ujian iman yang harus dilewati oleh orang percaya. Iman kita dibangun berdasarkan “janji” Allah untuk menyelamatkan mereka yang percaya kepada-Nya. Janji keselamatan itu tercantum dalam Alkitab, oleh karena itu orang percaya dapat mengenal Allah melalui kesaksian Alkitab. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Menurut Ibrani 11:6 “ Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”. Namun memelihara iman tidaklah mudah. Faktor-faktor yang menyulitkan dalam memelihara iman adalah sebagai berikut:1. Umumnya manusia membutuhkan bukti nyata atas segala sesuatu yangdipercayainya. Padahal, kehidupan iman menuntut keteguhan hati untuk percaya, bahkan ketika tidak ada bukti yang bersifat kasat mata.2. Hidup menyajikan dua pilihan kepada kita: Bersandar kepada Allahatau bersandar pada diri sendiri. Tatkala Allah tidak menjawab doa sebagaimana yang kita harapkan, kita tergoda untuk bersandar pada diri sendiri atau cepat merasa kecewa dan pada akhirnya membelakangi Tuhan.3. Mengapa Allah menuntut iman dari Kita?4. Iman adalah alat komunikasi atau sarana penghubung antara manusiadan Tuhan. Tuhan dan manusia berasal dari dua substansi yang berbeda:Tuhan roh, manusia jasmani; Tuhan tidak terbatas, manusia terbatas;Tuhan kekal, manusia fana. Iman adalah bahasa penghubung antara Allahdan manusia.5. Iman merupakan bukti kepatuhan kita kepada Allah. Iman adalah buktipengakuan kita akan status kita sebagai ciptaan dan Ia sebagai pencipta.Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 35Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 35C. Bagaimana Beriman?Beriman berarti percaya pada hal-hal berikut.1. Bahwa Allah mengatur hidup kita, 2. Allah menuntut pertanggungjawaban pada-Nya, yaitu bagaimana kita hidup dan apa yang kita perbuat.3. Allah terlibat dalam hidup kita, Ia mengasihi kita; Ia berinteraksi dengan kita; Ia menyelamatkan kita dari dosa4. Allah memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya, yaitu keselamatan dan hidup baru. D. Iman dan Percaya Kepada AllahMenurut Niftrik dan Boland, aspek iman tidak dapat dipisahkan dari percaya. Manusia beriman membangun imannya dengan kepercayaan yang menjadi akar dari iman. Alkitab menyatakan bahwa “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” ( Ibrani 11:6 ). Selanjutnya Ibrani 6:7-9 menulis tentang Nuh dan Abraham yang telah menunjukkan imannya yang luar biasa kepada Allah. Iman mereka terus bertumbuh dalam perjalanan hidupnya dan mereka terus memelihara imannya. Beberapa tokoh di bawah ini merupakan contoh bagaimana iman dan percaya kepada-Nya telah menyelamatakan manusia.1. NuhNuh merupakan tokoh fenomenal pada zamannya, ketika ia mulai mengerjakan bahtera sebagaimana diperintahkan Tuhan padanya, banyak orang memperolok dirinya bahkan menganggap Nuh kurang waras. Berbagai tekanan yang dialaminya tidak mudah untuk dihadapi, namun ia percaya kepada Tuhan. Imannya tidak goyah menghadapi tekanan dari penduduk kota sampai tiba saatnya mereka sekeluarga masuk ke dalam bahtera dan turun hujan 40 hari lamanya sehingga seluruh bumi tergenang air dan tidak ada manusia yang selamat kecuali Nuh dan keluarganya (seisi rumahnya). 2. AbrahamKetika Abraham disuruh Tuhan untuk meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke suatu negeri yang belum ia ketahui, ia taat kepada perintah 36 Buku Guru Kelas VIII SMP 36 Buku Guru Kelas VIII SMP Tuhan itu tanpa bertanya atau mengeluh. Allah berjanji akan menjadikan keturunan Abraham sebagai bangsa yang besar dan diberkati oleh Allah. Demikianlah, Abraham pergi tanpa kejelasan arah dan tujuan. Ia hanya mengandalkan janji Allah dan ia tetap memegang teguh janji tersebut. Abraham percaya dan dengan sepenuh hati menyerahkan masa depannya kepada janji Allah. Ia harus berpisah dengan sanak keluarganya, dari habitatnya demi menjalani perintah Allah. Berbagai rintangan dan kesulitan ia hadapi, puncak dari perjuangannya adalah ketika Allah meminta Abraham mempersembahkan Ishak sebagai kurban bagi-Nya. Anak tunggal yang diperoleh dari Allah setelah lama dinantikannya. Iapun memenuhi perintah Allah untuk mengurbankan Ishak. Namun, Allah meluputkan Ishak. Sebagai gantinya, Ia menyediakan hewan kurban bagi Abraham. Melalui ujian ini, Abraham disebut sebagai Bapa segala orang beriman. Riwayat Nuh dan Abraham dapat menjadi petunjuk bagaimana manusia beriman menampakkan iman dan percayanya kepada Tuhan. Mereka bertindak menyenangkan hati Tuhan. Tindakan Nuh dan Abraham didasari oleh aspek “percaya” kepada janji Tuhan, mereka mengenal Tuhan yang dipercayai, mereka merasakan kedekatan dengan-Nya, mereka membangun relasi atau hubungan yang intim dengan Tuhan dan berkomunikasi dengan-Nya secara teratur. Hubungan dengan Tuhan dibangun berdasarkan pengenalan, kedekatan serta pengetahuan akan Tuhan yang melibatkan seluruh diri mereka, baik hati nurani maupun akal budi.3. Perempuan Kanaan yang PercayaDalam Kitab Perjanjian Baru ada peristiwa yang dapat diangkat sebagai contoh dalam kaitannya dengan aspek percaya yakni perempuan Kanaan yang percaya (Mat. 15:21-28). Anak perempuan Kanaan ini kerasukan setan dan amat menderita. Ketika ia mendengar Yesus sedang berada di sekitar daerah tempat tinggalnya, perempuan ini segera pergi ke sana dan meminta Yesus menyembuhkan penyakit anak perempuannya itu. Yang menarik adalah Yesus ternyata tidak mempedulikan permintaan tolong perempuan Kanaan itu. Perempuan itu terus berusaha mendekati Yesus sambil memohon. Perkataan Yesus kemudian sebenarnya bisa sangat menyakitkan hatinya, tetapi perempuan Kanaan itu tidak peduli; ia tetap meminta tolong Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Dengan melihat keteguhan hati perempuan Kanaan itu, Yesus pun mengabulkan permintaannya menyembuhkan penyakit anaknya.Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 37Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 374. Yesus Menyembuhkan Hamba Seorang Perwira di KapernaumAda seorang perwira yang hambanya menderita sakit keras. Menurut Sabda.org, rupanya perwira itu adalah orang Romawi. Ia sangat mengasihi hambanya itu. Ketika sang perwira mendengar Yesus memasuki kota Kapernaum, ia mengutus beberapa orang suruhannya untuk meminta Yesus menyembuhkan penyakit hambanya itu. Yesus pun mengabulkan permintaan perwira Romawi itu. Pada waktu ia mengetahui bahwa Yesus bersedia menyembuhkan hambanya, justru perwira Romawi merasa dirinya tidak pantas menerima kehadiran Yesus di rumahnya. Ia hanya meminta Yesus untuk menyembuhkan hambanya itu dari jauh, karena ia percaya, tanpa perlu datang ke rumahnya pun, Yesus sanggup menyembuhkan hambanya itu. Demikianlah Yesus memuji “iman” perwira Romawi itu dan menyembuhkan hambanya yang sakit itu.Kesimpulan dari dua buah cerita dalam Perjanjian Baru tersebut, adalah, apabila kita percaya dan berpegang teguh kepada esus (melalui firman-ya) dengan segenap jiwa, hati dan akal budi, maka apa yang dikehendaki-Nya atas diri kita pasti terjadi. Inilah juga pengharapan kita dalam iman kepada-Nya. Sifat iman itu aktif; artinya, orang percaya harus benar-benar yakin akan kebenaran firman uhan dan sungguh-sungguh melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, jika seseorang mengaku beriman kepada Yesus, tetapi hanya di dalam ucapan saja, tanpa perilaku yang menunjukkan iman itu, maka sebenarnya iman itu sudah mati. Surat Yakobus mengatakan: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yakobus 2:17).E. Memelihara ImanDalam Kitab 2 Timotius 4:7-8 Rasul Paulus menulis : ” Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. Nampaknya Rasul Paulus mencoba menggambarkan betapa beratnya upaya untuk mempertahankan dan memelihara iman. Ia tidak hanya memelihara iman dengan berdoa, namun juga bersaksi memberitakan Injil Kerajaan Allah, berani mengatakan kebenaran dan menegur yang bersalah, memiliki penguasaan diri, sabar dan tabah dalam penderitaan. Itulah cara 38 Buku Guru Kelas VIII SMP 38 Buku Guru Kelas VIII SMP Paulus memelihara iman dan pengalaman ini ia bagikan kepada Timotius. Manusia di dalam dirinya sendiri tidak berdaya jika Roh Allah tidak mengaruniakan kepadanya kekuatan iman, pengertian dan pengharapan. Allah memberikan Roh-Nya hanya untuk orang yang mentaati Dia ( Kisah Para Rasul 5:32 ). Sejajar dengan itu, dalam Kitab Efesus 2:8-9 tertulis: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah: itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”Dalam rangka mendukung pernyataan tersebut di atas, Efesus 6:13-18 tertulis: “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”. Perisai iman yang disebutkan di dalam bagian Kitab tersebut ditutup dengan sebuah pernyataan, yaitu berdoalah setiap waktu dengan permohonan yang tak putus-putusnya. Artinya, manusia beriman harus selalu mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya. Melalui doa, orang beriman bisa datang lebih dekat kepada Tuhan. Doa menjaga relasi orang beriman dengan Allah menjadi semakin akrab sehingga Allah semakin dikenal. Dengan berdoa kita dapat mengetahui apakah kehendak Allah dalam hidup ini. Dibaptis dan menjadi Kristen bukanlah satu-satunya jaminan keselamatan, melainkan mereka yang melakukan kehendak Allah. Yaitu semua perintah yang diajarkan dalam Alkitab ( Matius 7:21 ).F. Ciri-Ciri Orang yang Memelihara ImanTiap manusia mempunyai harapan akan kebahagiaan sejati yang telah ditanamkan dalam setiap hati manusia. Harapan ini adalah suatu keinginan hati berdasarkan iman. Tanpa iman, maka manusia tidak akan mempunyai pengharapan. Harapan inilah yang membuat manusia bertahan menanggung segala macam penderitaan dan kesulitan hidup, karena berharap akan Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 39Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 39kehidupan kekal di surga. Harapan yang membuat manusia dapat berdiri tegak di tengah-tengah berbagai persoalan dan tantangan kehidupan. Orang yang memelihara iman adalah mereka yang memiliki sikap berikut:1. Bijaksana dalam Memposisikan Diri di Tengah Krisis yang Sedang Dihadapi Daniel 1:8, Sadrakh, Mesak dan Abednego memiliki iman bahwa pembuangan yang dialaminya memiliki dimensi pengajaran. Sehingga mereka peka bagaimana seharusnya mengambil sikap. Karena iman, mereka tidak santap makanan raja dengan kemewahannya. Karena iman, mereka percaya akan lebih bugar dengan santapan sederhana. Itulah praktik peran iman mereka yaitu tahu memposisikan diri di tengah krisis. Mereka tidak mau menyembah patung berhala raja meskipun diancam hukuman berat, sebagai akibat dari ketaatan kepada Tuhan, mereka dicampakkan dalam api yang menyala-nyala namun Tuhan menyelamatakan mereka. Hasilnya, rajapun takluk kepada Tuhan yang mereka sembah.2. Tetap Menghormati Norma Sosial Masyarakat Kondisi hidup Daniel dan kawan-kawannya di tengah lingkungan majemuk atau beragam, mirip dengan konteks Indonesia yang majemuk atau beragam. Namun Daniel yang beriman tidak langsung menolak semua norma sosial masyarakat, contoh: Daniel mengikuti kebiasaan setempat dalam memberi salam kepada raja, ia tidak keberatan ketika nama mereka diganti dengan nama Babel. Penggantian nama tidak pernah melunturkan iman mereka.3. Menerima Keterbatasannya sebagai ManusiaManusia adalah makhluk yang diciptakan Allah, sebagai ciptaan manusia memiliki keterbatasan. Karena keterbatasan itu, manusia menggantungkan hidupnya pada Tuhan. Percaya dan memberikan diri dipimpin oleh Tuhan tidak berarti manusia bersikap pasif, malahan kepercayaan itu menjadi suatu dorongan atau rmotivasi untuk belajar dan bekerja dengan giat.4. Terus Menjaga dan Membina Hubungan yang Akrab dengan Tuhan melalui Doa dan Membaca AlkitabBerbagai persoalan yang dihadapi dalam hidup baik itu menyenangkan maupun tidak, dalam segala situasi orang beriman tetap memelihara hubungan yang akrab dengan Tuhan. Hal itu dilakukan melalui kesetiaan dalam berdoa dan membaca Alkitab.40 Buku Guru Kelas VIII SMP 40 Buku Guru Kelas VIII SMP 5. Tetap Setia Apapun KeadaannyaOrang beriman tetap setia dan percaya pada Allah dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Iman mereka tidak pernah surut dan tidak hilang percaya kepada Allah. Terkadang menghadapi masalah, apalagi jika masalah itu berat, manusia cenderung meragukan Allah. Bangsa Israel sering melakukannya ketika mereka berada di padang gurun, padahal Allah telah melakukan banyak mujizat bagi mereka. Ketika menghadapi kesukaran mereka bersungut-sungut dan meragukan Allah.6. Menerima Baik-Buruknya Peristiwa Kehidupan sebagai kedaulatan AllahOrang beriman menerima berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya seraya mengakui kedaulatan Allah dalam hidupnya. Hal ini berbeda dengan sikap “pasrah” yang fatalistik. Tentu saja dalam menghadapi masalah, orang beriman akan berupaya mengatasinya tetapi tidak mengandalkan kemampuannya sendiri namun sambil berupaya mereka tetap berdoa dan percaya kepada Allah.G. Penjelasan Bahan Alkitab• Ibrani 11:1Iman adalah jaminan dari apa yang diharapkan (surga) dan keyakinan dari apa yang tidak diinginkan (neraka). Bagi orang-orang Ibrani yang tawar hati akibat penganiayaan, penulis Ibrani 11 menekankan bahwa iman terarah seluruhnya ke masa depan, kepada keselamatan. Iman menjadi sumber keteguhan hati dan kekuatan yang luar biasa, yaitu percaya akan kesetiaan Allah bahwa Ia pasti memenuhi janji-janji-Nya.Kata pengantar ini (Ibrani 11:1-3), menyatakan tiga hal mengenai iman: bahwa iman pada hakikatnya adalah kenyataan dan kepastian dari apa yang belum kita alami, bahwa iman membawa kehormatan istimewa bagi tokoh-tokoh sejarah Israel dan bahwa iman merupakan suatu pandangan hidup yang khusus, yang mempengaruhi setiap pikiran dan kegiatan kita di dalam dunia ini. Ibrani 11 ingin meneguhkan iman kita melalui contoh tokoh-tokoh Israel yang telah membuktikan iman mereka kepada Allah dan mereka memperoleh keselamatan.Percaya pada hal-hal yang belum terlihat artinya kita percaya pada janji Allah meskipun apa yang dijanjikan itu belum terlihat secara kasat mata. Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 41Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti 41Untuk memperkuat kesaksiannya, penulis Kitab Ibrani menyebutkan nama-nama tokoh Alkitab untuk mengingatkan kembali bahwa iman mereka telah mendatangkan keselamatan.Melalui iman, anak-anak Allah mengetahui bahwa Tuhan telah menciptakan bumi dengan firman-ya. okoh-tokoh Perjanjian ama terkemuka hidup oleh iman. Habel, Henokh, Nuh disebut sebagai contoh orang-orang yang bertindak dengan iman. Angkatan yang menerima nasihat ini hendaknya juga hidup oleh iman. Setiap angkatan atau generasi harus hidup oleh segala sesuatu yang kita harapkan hingga Kristus datang kembali.• Yakobus 2:14-17Iman yang menyelamatkan senantiasa merupakan iman yang hidup dan tidak berhenti dengan sekadar mengaku Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga mendorong ketaatan kepada Dia sebagai Tuhan. Demikianlah, ketaatan adalah aspek yang penting dari iman. Bahwa iman yang sejati harus aktif dan tekun sehingga membentuk keberadaan kita. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati ( Yakobus 2:17 ). Iman yang sejati selalu menyatakan dirinya dalam ketaatan kepada Allah dan perbuatan belas kasihan terhadap mereka yang membutuhkannya. Tulisan dalam Kitab Yakobus mengarahkan ajaran ini kepada mereka di dalam gereja yang mengaku beriman kepada Kristus, pada pendamaian oleh darah-Nya. Mereka percaya bahwa pengakuan itu saja sudah cukup untuk memperoleh keselamatan. Mereka berkeyakinan bahwa hubungan pribadi dalam ketaatan dengan Kristus sebagai Tuhan tidak penting. Karena itu, Yakobus mengatakan bahwa iman semacam itu mati dan tidak menghasilkan keselamatan atau sesuatu yang baik. Iman yang menyelamatkan ialah “iman yang bekerja oleh kasih”. Pada lain pihak, kasih karunia Allah di dalam Roh Kuduslah yang memungkinkan orang percaya menanggapi kasih Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (bnd.Roma 1:17). Jikalau kita berhenti menanggapi kasih karunia Allah dan pimpinan Roh, maka iman kita akan mati.• 2 Timotius 4:7Ketika merenungkan kembali hidupnya bersama Allah, Paulus sadar bahwa ajalnya sudah dekat dan melukiskan hidup dalam iman dengan istilah berikut.Next >