< Previous 53Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti1) Sikap dudukSikap duduk waktu berlatih harus tegak, tetapi santai tidak kaku atau tegang. Salah satu sikap duduk yang dapat membantu bertahan dalam waktu yang cukup adalah sikap padmasana yaitu kedua kaki disilangkan satu sama lain. Bagi yang sudah terlatih sikap ini akan lebih nyaman karena akan membantu untuk berada dalam posisi tegak dan seimbang. Sedangkan yang baru permulaan berlatih dapat mengambil sikap duduk setengah padmasana yaitu satu kaki disilangkan di bawah yang lain.2) Mengendurkan keteganganSetelah memilih sikap duduk yang rileks secara mental, kita mencoba untuk melemaskan ketegangan otot-otot yang ada. Kita melemaskan otot-otot mulai dari atas atau kepala sampai kebawah atau ujung kaki. Misalnya, otot kening, otot di leher, dan otot di punggung harus dikendurkan. Bila napas terasa tertahan tariklah napas dalam-dalam dan hembuskan napas perlahan-lahan maka otot-otot akan terasa lebih santai dan kendur. Usaha mengendurkan ketegangan dapat dilakukan beberapa kali. Usaha pertama dalam meditasi adalah berusaha untuk mengalihkan perhatian kita yang biasanya tertuju keluar jasmani menjadi ke dalam diri sendiri.3). Bernapas dengan wajarBerlatih meditasi pernapasan bukanlah bertujuan untuk mengatur napas menjadi panjang atau pun menahan napas kita selama mungkin untuk memperoleh kekuatan. Semua usaha untuk mengatur napas sebetulnya tidak membantu untuk mencapai ketenangan yang sesungguhnya. Bernapas tidak perlu diatur-atur, sebaliknya bernapas dengan wajar sehingga tubuh ini mempunyai mekanisme yang akan membuat napas menjadi teratur. Tahapan-tahapan melaksanakan meditasi dengan objek pernapasan sebagai berikut.Sumber: Dokumen KemendikbudGambar 3.2. Anak meditasi di alam terbukaSumber: Dokumen KemendikbudGambar 3.3 Meditasi dengan sikap duduk54 Kelas XII SMA/SMK a) Tahap pertama: menghitung napasMenghitung napas ditujukan kepada yang baru pertama kali berlatih meditasi. Tujuannya adalah mengarahkan pikiran yang biasanya berkelana kian kemari kepada hitungan napas. Dalam meditasi ini bernapas melalui hidung, memperhatikan sentuhan napas di ujung hidung. Setiap kali napas masuk dihitung “satu” napas masuk berikutnya “dua” dan seterusnya sampai “sepuluh”. Setelah itu kembali mulai dari satu.b) Tahap kedua: mengikuti napasMengikuti napas berarti memperhatikan pada saat napas mulai menyentuh ujung hidung, kemudian terus sampai pada ujung akhir sampai dari proses menarik napas. Pada saat itu harus dikenali bahwa napas yang masuk berangsur-angsur menjadi berhenti. Kemudian dimulai proses mengeluarkan napas. Sentuhan di ujung hidung sebagai awal dan kemudian mengeluarkan apa yang berangsur-angsur makin perlahan kemudian berhenti untuk memulai menarik napas.Mengikuti napas maksudnya adalah mengikuti napas dengan penuh perhatian. Ketika meditator menarik napas panjang, me-ngetahui bahwa ia menarik napas panjang; ketika menarik napas pendek, mengetahui bahwa ia menarik napas pendek.Setelah berlatih “mengikuti napas” dengan tekun maka kita dapat memusatkan perhatian kita sepenuhnya pada napas. Dengan latihan yang tekun akan timbul ketenangan yang belum pernah kita alami sebelumnya dan disertai kegembiraan. Dengan pikiran yang tenang, jasmani kita pun akan menjadi tenang, selaras dan terasa menyenangkan. Napas kita makin lama semakin halus dan panjang. Selain itu, perasaan letih pun lenyap dan jasmani pun terasa segar menyenangkan.Perumpamaan GergajiBila kita menggergaji sepotong kayu, balok misalnya maka sambil meng gerakkan gergaji maju mundur untuk me motong, perhatian kita di-pusatkan pada titik sentuhan mata gergaji dengan balok yang akan kita potong. Kita tidak memperhatikan mata gergaji yang telah menyentuh dan bergerak menjauhi titik sentuh. Kita tidak memperhatikan mata gergaji yang belum mengenai titik sentuh, yang diperhatikan hanyalah titik sentuhnya saja. Mata gergaji adalah perumpamaan dari napas yang masuk dan napas yang keluar, sedangkan ujung hidung diumpamakan sebagai titik sentuh antara mata gergaji dengan balok. 55Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekertic) Tahap ketiga: memperhatikan sentuhan napasNapas yang semakin lama makin tenang dan halus sehingga tidak terasa lagi. Beberapa orang yang mengalami hal ini akan terkejut karena mengira bahwa dirinya tidak bernapas lagi. Sesungguhnya napas masih tetap ada, tetapi karena sedemikian halusnya maka seolah-olah lenyap.Yang diumpamakan dengan sapi adalah napas kita, yang akan selalu dijumpai ditempatnya yaitu di ujung hidung. Dengan menyadari bahwa napas akan selalu ada sepanjang kehidupan kita, hanya karena sangat halus sehingga tidak terasa. Langkah terbaik harus kembali memusatkan perhatian pada ujung hidung dengan saksama memperhatikan sentuhan napas yang mulai terasa lagi. Betapapun halusnya napas itu, tetap akan terasa di ujung hidung. Jika masih belum terasa berarti perhatian dan pemusatan pikiran yang diberikan masih kurang kuat.d) Tahap keempat: menenangkan napasDengan melanjutkan perhatian pada keseluruhan napas (awal, pertengahan dan akhir) dari setiap proses menarik dan mengeluarkan napas tanpa terputus-putus akan nyata bagi kita bahwa proses napas bergetar atau bergelombang dengan kasar. Demikian pula proses mental yang mengikutinya juga menjadi bergetar dan bergelombang sesuai dengan napas yang diamati. Dengan begitu, akan timbul harapan pada diri kita untuk berusaha agar pernapasan dan proses mental yang mengikuti menjadi lebih tenang. Dengan memperhatikan faktor-faktor batin yang menyertai perhatian kita pada sentuhan di ujung hidung, kita mengetahui ada perasaan tenang yang menyertai perhatian kita. Ketenangan ini dikembangkan dengan tetap mempertahankan perhatian pada sentuhan napas di ujung hidung. Apabila kita tekun melakukan usaha ini terus-menerus sehingga lama kelamaan napas kitapun menjadi halus. Dan pada akhirnya, batin menjadi tenang dan perhatian pada sentuhan napas di ujung hidung terus berkesinambungan. Usaha yang kita lakukan ini disebut sebagai menenangkan napas.Menggali informasiLakukan praktik meditasi pendangan terang yang didahului meditasi Samatha dengan objek pernapasan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah kamu pahami!56 Kelas XII SMA/SMK MengasosiasiTuliskan pengalamanmu setelah melakukan meditasi Samatha dengan obyak pernapasan. Konsultasikan kemajuan meditasi dan rintangan atau hambatan selama praktik meditasi Samatha dengan objek pernapasan.Lembar Kerja SiswaTuliskan pengalamanmu setelah meditasi pernapasan sesuai tahap-tahapan pelaksanaan di bawah ini.NoBentuk AktivitasPengalaman1.Mengendurkan ketegangan tubuh dan membuat badan rileks2.Latihan Konsentasi dalam menghitung napas3.Latihan konsentrasi dalam mengikuti napas4.Latihan konsentrasi dalam memperhatikan napas5.Latihan konsentrasi dalam menenangkan napasMengomunikasikanUngkapkan pengalamanmu selama meditasi kepada guru agar mendapatkan masukan dan bimbingan. 57Pendidikan Agama Buddha dan Budi PekertiPada pertemuan ini, proses mengamati dengan cara membaca materi tentang praktik meditasi pandangan terang langsung tanpa diawali dengan samatha bhavana.Mengamati b. Praktik meditasi pandangan terang langsung tanpa diawali dengan samatha bhavana (suddha vipassana yanika). Seseorang yang akan melakukan meditasi ini harus memperhatikan beberapa hal berikut.1) Perhatian terhadap tubuh (kayanupassana)Seorang meditator harus berdiam di tempat yang sunyi, tenang, duduk bersila, badan tegak, dan mengembangkan perhatian benar. Dengan penuh kesadaran tahu menarik napas panjang dan mengeluarkan napas panjang, penuh kesadaran tahu menarik napas pendek dan mengeluarkan napas pendek. Ia melatih diri dengan berpikir “aku akan menarik napas dengan menyadari seluruh gerak pernapasanku, aku akan mengeluarkan napas dengan menyadari seluruh gerak pernapasanku”.Ia melatih diri dengan berpikir: aku akan menarik napas dengan seluruh badanku rileks. Ia melatih diri dengan berpikir aku akan mengeluarkan napas dengan seluruh badanku rileks. Apabila berjalan harus mengetahui dan menyadari “aku berjalan” atau apabila berbaring, ia mengetahui “aku berbaring”. Dengan demikian, gerakan apa pun yang dilakukan harus disadari dan diketahui. Ia melakukan perenungan tentang tubuhnya dengan melihat ke dalam, melihat dari luar, dan melihat dari sudut ke dua-duanya secara bergantian.Ia harus mengetahui dengan jelas, apabila bergerak maju atau bergerak mundur, apabila ia melihat ke depan atau menoleh ke kiri dan ke kanan. Apabila menekuk tangannya atau membentangkan tangannya, apabila ia sedang makan, minum, menyunyah, menelan, berjalan, berdiri, duduk dan berbaring.Perumpamaan SenamPerhatian pada tubuh diibaratkan sebagai seorang pesenam di atas besi palang, ketika sedang melakukan ayunan panjang ia mengetahui dengan jelas.58 Kelas XII SMA/SMK 2) Perhatian terhadap perasaan (vedananupassana)Seorang meditator menyadari ketamakan, kesedihan, dan perasaan menyenangkan dalam dirinya. Apabila mengalami perasaan yang menyenangkan, harus mengetahui dengan jelas, aku mengalami perasaan yang menyenangkan. Apabila mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, juga mengetahui dengan jelas: aku mengalami perasaan yang tidak menyenangkan,.Apabila mengalami perasaan yang netral (bukan menyenangkan dan juga bukan tidak menyenangkan) harus mengetahui dengan jelas: aku mengalami perasaan yang netral.Apabila mengalami perasaan yang menyenangkan terhadap suatu benda yang berbentuk, ia mengetahui dengan jelas: aku mengalami perasaan yang menyenangkan terhadap benda yang berbentuk. Apabila mengalami perasaan yang tidak menyenangkan terhadap suatu benda yang berbentuk, ia mengetahui dengan jelas: aku mengalami perasaan yang tidak menyenangkan terhadap benda yang berbentuk. Apabila mengalami perasaan yang netral mengetahui dengan jelas: aku mengalami perasaan netral. Dengan demikian dapat merenung tentang perasaannya dengan melihatnya ke dalam dan melihatnya dari luar dan melihatnya dari sudut kedua-duanya secara bergantian.3) Perhatian terhadap kesadaran (cittanupassana)Seorang harus merenung dengan perhatian benar terhadap kesadarannya. Ia menyadari adanya keserakahan (lobha) sebagai kesadaran yang diliputi keserakahan. Ia juga menyadari tidak adanya keserakahan (alobha) sebagai kesadaran yang tidak diliputi keserakahan.Ia menyadari adanya kebencian (dosa) sebagai kesadaran yang diliputi kebencian. Ia menyadari tidak adanya kebencian sebagai kesadaran yang tidak diliputi kebencian Sumber: Dokumen Kemendikbud Gambar 3.4 Meditasi Vipassana dengan berjalan. Sumber: Dokumen KemendikbudGambar 3.5 Samanera berjalan dengan perhatian dan kesadaran 59Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti(adosa). Ia menyadari adanya kegelapan batin (moha) sebagai kesadaran yang diliputi kegelapan batin. Ia menyadari tidak adanya kegelapan batin sebagai kesadaran yang tidak diliputi oleh kegelapan batin (amoha).Menyadari adanya kebingungan sebagai kesadaran yang diliputi kebingungan. Ia menyadari adanya kemalasan sebagai kesadaran yang diliputi kemalasan. Menyadari adanya cita-cita besar sebagai kesadaran yang diliputi cita-cita besar. Ia dapat menyadari tidak adanya cita-cita besar sebagai kesadaran yang tidak diliputi cita-cita besar. Menyadari adanya ketenangan sebagai kesadaran yang diliputi ketenangan. Menyadari adanya ketidaktenangan sebagai kesadaran yang diliputi ketidaktenangan.4) Perhatian terhadap bentuk-bentuk pikiran (dhammanupassana)Seorang meditator melakukan perhatian benar terhadap bentuk-bentuk pikiran. Ia harus melakukan perhatian benar terhadap bentuk-bentuk pikiran yang ada hubungannya dengan lima rintangan (Nivarana). Apabila terdapat nafsu keinginan dalam dirinya (kamacchanda), maka harus mengetahui dengan jelas bahwa dalam dirinya terdapat nafsu keinginan; atau apabila dalam dirinya tidak terdapat nafsu keinginan, ia pun mengetahui dengan jelas bahwa dalam dirinya tidak terdapat nafsu keinginan. Apabila suatu keinginan tidak baik (vyapada) ada dalam dirinya, maka ia mengetahui dengan jelas bahwa keinginan tidak baik ada dalam dirinya, atau apabila kemalasan dan kelesuan (thinamiddha) ada dalam dirinya, meditator mengetahuinya dengan jelas bahwa kemalasan dan kelesuan ada dalam dirinya atau apabila kegelisahan dan kecemasan (uddhaccakukkucca) ada dalam dirinya, ia mengetahuinya dengan jelas bahwa kecemasan (uddhaccakukkucca) ada dalam dirinya.Apabila keragu-raguan (vicikiccha) ada dalam dirinya, ia mengetahuinya dengan jelas keragu-raguan (vicikiccha) ada dalam dirinya. Dan apabila keragu-raguan tidak ada dalam dirinya, ia mengetahuinya dengan jelas keragu-raguan tidak ada dalam dirinya.Ia harus melakukan perhatian benar terhadap bentuk-bentuk pikiran yang ada hubungannya dengan lima kelompok kegemaran. Dengan berpikir: beginilah benda-benda yang berbentuk; beginilah benda itu timbul dan beginilah benda itu lenyap kembali. Beginilah perasaan; beginilah perasaan itu timbul dan beginilah perasaan itu lenyap kembali. Beginilah pencerapan; beginilah pencerapan itu timbul dan beginilah pencerapan itu lenyap kembali. Beginilah pikiran; beginilah pikiran itu timbul dan beginilah pikiran itu lenyap kembali. Beginilah kesadaran; beginilah kesadaran itu timbul dan beginilah kesadaran itu lenyap kembali.60 Kelas XII SMA/SMK Ia harus melakukan perhatian benar terhadap bentuk-bentuk pikiran yang ada hubungannya dengan enam landasan indriya. Mengetahui tentang adanya mata dan objek yang dapat dilihat oleh mata serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh mata dan objeknya itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu di kemudian hari tidak akan timbul kembali.Ia tahu tentang adanya telinga dan suara yang dapat didengar oleh telinga serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh telinga dan suara itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu dikemudian hari tidak akan timbul kembali.Ia tahu tentang adanya hidung dan bebauan yang dapat dicium oleh hidung serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh hidung dan bebauan itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu dikemudian hari tidak akan timbul kembali.Ia tahu tentang adanya lidah dan rasa yang dapat dikecap oleh lidah serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh lidah dan rasa itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu dikemudian hari tidak akan timbul kembali.Ia tahu tentang adanya badan jasmani yang dapat merasa sentuhan-sentuhan serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh badan jasmani yang dapat merasa sentuhan-sentuhan itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu dikemudian hari tidak akan timbul kembali.Ia tahu tentang adanya pikiran yang dapat menangkap objek-objek mental serta belenggu yang dapat ditimbulkan oleh pikiran yang dapat menangkap objek-objek mental, dapat merasa sentuhan-sentuhan itu; dan tahu timbulnya belenggu yang sebelumnya tidak ada, dan tahu lenyapnya kembali belenggu yang telah timbul, dan tahu belenggu yang lenyap itu dikemudian hari tidak akan timbul kembali. 61Pendidikan Agama Buddha dan Budi PekertiSetelah membaca materi praktik meditasi pandangan terang langsung tanpa diawali dengan samatha bhavana, rumuskan pertanyaan untuk mengetahui materi yang belum jelas! Carilah informasi melalui membaca buku teks dari berbagai sumber dan menghubungkan pengalamanmu masa lalu untuk menjawab pertanyaan!Mari bertanya dan menggali informasiMengasosiasiTuliskan pengalamanmu setelah melakukan meditasi pandangan terang langsung tanpa diawali dengan samatha bhavana.MengomunikasikanKonsultasikan kemajuan meditasi dan rintangan atau hambatan selama praktik meditasi pandangan terang langsung tanpa diawali dengan samatha bhavana.Lembar Praktik SiswaTuliskan pengalamanmu setelah praktik meditasi pandangan terang sesuai dengan tahapan empat objek perenungan.62 Kelas XII SMA/SMK Pada pertemuan ini, proses mengamati dengan cara membaca materi tentang praktik meditasi pandangan terang dengan empat posisi dasar (duduk, berdiri, berjalan, dan berbaring).Mengamati No.Aktivitas Jasmani dan BatinJawabanSelaluSeringKadang-KadangTidak Pernah1.Saya duduk dan berjalan penuh kesadaran.2.Saya dapat menyadari timbulnya, berlangsung, dan lenyapnya perasaan senang dan sedih.3.Saya menyadari timbul, berlangsung, dan lenyapnya kesadaran.4.Saya menyadari timbul, berlangsung, dan lenyapnya bentuk-bentuk pikiran.5.Saya mengatasi rintangan yang timbul dalam meditasi.6.Saya berangkat ke sekolah dengan berhati-hati.7.Saya mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian.8.Saya mengerjakan tugas dengan hati senang dan bahagia.Next >